Kapas Tinggi
- Nur Faishal
Kami seperti masuk ke lorong waktu, kembali ke era kerajaan. Seperti di film-film kolosal yang menceritakan seorang pendekar memasuki hutan lebat, mendaki gunung, dan menghadapi segala macam rintangan demi untuk memetik bunga atau tumbuhan ajaib yang diyakini bisa menyembuhkan orang tercintanya dari sakit yang parah.
Saya langsung pulang setelah mendapatkan beberapa lembar daun Kapas Tinggi. Dua lembar lalu dimasukkan ke dalam air, disobek-sobek, diremas-remas, hingga airnya berubah warna keruh kehijauan. Kemudian leburan daun yang sudah becek itu dikurapkan ke dahi si kecil. Rambutnya dibilas dengan air Kapas Tinggi itu.
Alhamdulillah. Tak sampai satu jam, si kecil tertidur pulas. Suhu badannya terus turun, tempo racauannya juga kian pelan. Paginya ketika bangun, ia sudah bisa duduk sendiri, lalu berjalan pelan menghampiri ibunya yang tengah mengurus bunga di halaman. Seperti biasa, si kecil kemudian minta makan menu kesukaannya: nasi putih sayur kelor.
Begitulah cara kebanyakan dari kami memberesi gangguan kesehatan ringan di desa. Memanfaatkan apa yang ada di alam untuk mengusir penyakit. Pun juga soal menjaga kebugaran tubuh agar imunitas tubuh tumbuh dengan sendirinya sehingga segala macam penyakit yang menghampiri terpental saat mampir.
Cara sama kami lakukan untuk memenuhi gizi anak. Sebelum sekolah sudah diasupi makanan alamiah noninstan dan kimia. Ikan laut plus sayur kelor jadi menu harian. Sejak dulu sampai sekarang begitu. Dengan begitu tidak ada cerita anak-anak kelaparan sebelum berangkat sekolah.
Lalu tiba-tiba ada program MBG. Katanya agar anak-anak Indonesia bergizi.
Hiks.