Adung Takut Istri
- Rochard Drury/Getty Images
Adung juga menilai istrinya suka mengatur-atur. Lebih tepatnya suka melarang. Adung dilarang nongkrong di kafe-kafe di kota dengan alasan banyak godaan. Pulang kerja harus langsung pulang. Kalau malam tak boleh begadang. Pokoknya semua yang bikin dia senang dan gembira di luar rumah dilarang oleh Inem.
"Padahal itu dunianya laki-laki," gerutu Adung. Yang bikin Adung bertanya-tanya sampai sekarang, istrinya melarang dia terlalu akrab dengan Lahab.
"Kenapa dengan Lahab?," tanya Adung.
"Pokoknya jangan!," ketus Inem.
Adung tak berani membantah lagi.
"Jangan-jangan aku salah pilih istri?." Pikiran Adung mulai liar.
Ia terkenang saat pertama kali bertemu Inem di pasar saat tawar-menawar harga dengan penjual ikan. Saat itu Adung membeli es serut sepulang dari tes seleksi CPNS. Matanya tak bisa mengelak begitu melihat wajah rupawan Inem dengan bulat pipi yang serasi dengan bentuk hidungnya.
Dibalut baju panjang putih, di mata Adung saat itu Inem seperti bidadari turun dari surga. Apalagi kerudung hitam yang menutupi kepala Inem, bagi Adung itu pertanda bahwa Inem adalah gadis impian yang akan membawanya ke surga dunia.
Maka Adung lekas-lekas mencari tahu asal-usul Inem. Diketahuilah bahwa Inem anak Pak Haji Jikar. Inem baru kali ini kelihatan karena bertahun-tahun dikirim ke pondok pesantren untuk belajar ilmu agama.
Buru-buru Adung mengutarakan keinginannya ke orang tuanya untuk melamar Inem. Orang tua Adung dan Inem pun bertemu. Kedua belah pihak sepakat dan langsung menentukan akad nikah dengan dengan cepat agar digelar dalam tempo waktu sesingkat-singkatnya.
"Agar tidak haram," kata Pak Haji Jikar.
Hari-hari awal menikah Adung dan Inem amat bahagia. Apalagi Adung diterima sebagai pegawai negeri dan ditempatkan bertugas di kecamatan yang tak begifu jauh dari tempat tinggal mereka.
"Ini semua berkah dari Tuhan. Ketemu istri salihah dan cantik saat seleksi CPNS, dan sekarang diterima sebagai pegawai negeri," kata Adung saat itu.
Jalan dua tahun, Adung mulai merasakan hal yang tak mengenakkan dari istrinya. Inem suka melarang-larang. Di dalam rumah, Inem lembut dan menyenangkan. Tapi bisa urusan di luar rumah, Inem ikut mengatur-atur. Termasuk soal bagaimana Adung bergaul di kantornya. Satu waktu Adung cerita tentang kebiasaan Lahab dan istrinya yang berlibur setiap pekan ke tempat wisata. Adung tahu soal itu dari status WhatsApp Lahab.