Adung Takut Istri

Ilustrasi konsep mental.
Sumber :
  • Rochard Drury/Getty Images

Adung Pusing tujuh keliling. Istrinya, Inem, tak mau diajak berlibur ke Bukit Nirwana di Kota Konoha yang belakangan viral itu. Padahal, ia kadung berjanji bareng teman-teman sekantornya untuk berlibur bersama kelurga masing-masing.

img_title Polres Tanjung Perak Tangkap Pria Asal Sampang Karena Miliki 65 Gram Sabu

"Pemandangannya bagus di sana, Bu. Nanti kita tidur di vila kelas hotel bintang 5," rayu Adung.

"Terus, siapa yang bayar? Uangnya dari mana?," sergah Inem.

img_title Jaringan Peredaran Sabu di Kebomas Gresik Dibongkar

Adung terdiam. Ia memang tak punya uang untuk membayar ongkos liburan mewah itu. Uang gajinya yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari selama satu bulan tinggal sedikit saja. Itu pun sudah masuk dompet istrinya.

Tapi asal Inem mau, Adung berencana meminjam duit ke teman sekantornya, Lahab. Dialah yang punya ide liburan bersama dan yang sanggup meminjamkan duit ke Adung asal mau bergabung.

img_title Wagub Emil Nilai IndoBuildTech Surabaya 2026 Dapat Gerakkan Sektor Konstruksi di Jawa Timur

"Terus, nanti bayarnya pakai apa? Cukup gaji sampean buat bayar utang? Buat makan saja mesti diatur betul," jawab Inem.

Adung lagi-lagi terdiam.

Adung batal liburan. Tapi bayangan bersantai-santai bersama istri dan teman-temannya di Bukit Nirwana terus tergambar. Itu menambah kekesalannya dan menajamkan rasa irinya yang sejak lama tertanam di hatinya.

Tapi Adung bisa apa. Ia hanya pegawai negeri pangkat rendah di tingkat kecamatan. Gaji sebulan memang tak cukup untuk dibuat berleha-leha. Lahab dan beberapa teman akrab sekantornya sebetulnya juga sama. Pegawai pangkat tak seberapa.

"Tapi kenapa mereka bisa bergaya hidup mewah?," batin Adung.

Adung lantas menimpakan semua kekesalannya itu pada Inem, istrinya. Ia menyimpulkan istrinya amat-amat pelit. Bayangkan, pikir dia, setiap hari lauk di dapur kalau bukan pindang, ya, tahu. Bila pun ada sayur, ya, sayur kelor yang tinggal memetik saja di pekarangan rumah. Tak usah membeli.

Adung ingat, satu hari sehabis kerja ia tak langsung pulang. Ia pergi ke rumah Lahab sampai sore. Di sana, istri Lahab menyuguhkan makanan yang hanya satu tahun sekali ia cicipi: kepiting jumbo balado, cumi-cumi kuah hitam, dan sayur sop berisi ayam gemuk.

"Mana pernah di rumah aku makan lezat macam itu? Huh!," Adung dongkol sendiri.

Adung juga menilai istrinya suka mengatur-atur. Lebih tepatnya suka melarang. Adung dilarang nongkrong di kafe-kafe di kota dengan alasan banyak godaan. Pulang kerja harus langsung pulang. Kalau malam tak boleh begadang. Pokoknya semua yang bikin dia senang dan gembira di luar rumah dilarang oleh Inem.

"Padahal itu dunianya laki-laki," gerutu Adung. Yang bikin Adung bertanya-tanya sampai sekarang, istrinya melarang dia terlalu akrab dengan Lahab.

"Kenapa dengan Lahab?," tanya Adung.

"Pokoknya jangan!," ketus Inem.

Adung tak berani membantah lagi.

"Jangan-jangan aku salah pilih istri?." Pikiran Adung mulai liar.

Ia terkenang saat pertama kali bertemu Inem di pasar saat tawar-menawar harga dengan penjual ikan. Saat itu Adung membeli es serut sepulang dari tes seleksi CPNS. Matanya tak bisa mengelak begitu melihat wajah rupawan Inem dengan bulat pipi yang serasi dengan bentuk hidungnya.

Dibalut baju panjang putih, di mata Adung saat itu Inem seperti bidadari turun dari surga. Apalagi kerudung hitam yang menutupi kepala Inem, bagi Adung itu pertanda bahwa Inem adalah gadis impian yang akan membawanya ke surga dunia.

Maka Adung lekas-lekas mencari tahu asal-usul Inem. Diketahuilah bahwa Inem anak Pak Haji Jikar. Inem baru kali ini kelihatan karena bertahun-tahun dikirim ke pondok pesantren untuk belajar ilmu agama.

Buru-buru Adung mengutarakan keinginannya ke orang tuanya untuk melamar Inem. Orang tua Adung dan Inem pun bertemu. Kedua belah pihak sepakat dan langsung menentukan akad nikah dengan dengan cepat agar digelar dalam tempo waktu sesingkat-singkatnya.

"Agar tidak haram," kata Pak Haji Jikar.

Hari-hari awal menikah Adung dan Inem amat bahagia. Apalagi Adung diterima sebagai pegawai negeri dan ditempatkan bertugas di kecamatan yang tak begifu jauh dari tempat tinggal mereka.

"Ini semua berkah dari Tuhan. Ketemu istri salihah dan cantik saat seleksi CPNS, dan sekarang diterima sebagai pegawai negeri," kata Adung saat itu.

Jalan dua tahun, Adung mulai merasakan hal yang tak mengenakkan dari istrinya. Inem suka melarang-larang. Di dalam rumah, Inem lembut dan menyenangkan. Tapi bisa urusan di luar rumah, Inem ikut mengatur-atur. Termasuk soal bagaimana Adung bergaul di kantornya. Satu waktu Adung cerita tentang kebiasaan Lahab dan istrinya yang berlibur setiap pekan ke tempat wisata. Adung tahu soal itu dari status WhatsApp Lahab.

Adung ingin merasakan seperti itu bersama Inem. Setiap pekan jalan-jalan sekadar menghilangkan penat pikiran.

"Memang pakai uang siapa berlibur tiap pekan? Sampean juga tak tahu dari mana uang mereka dapat buat berlibur dan berfoya-foya," jawab Inem menimpali ajakan Adung untuk berlibur.

Mengingat jawaban Inem itu pikiran Adung makin tak terkendali. Sambil berbaring dan menatap langit-langit kamar, ia merasa kesimpulannya salah memilh Inem sebagai istri terasa tepat.

"Gara-gara Inem aku dibilang teman-teman sebagai suami-suami takut Istri," batin Adung.

"Mas! Coba ke sini. Lihat itu di TV." Suara Inem dari ruang tamu memecah lamunan Adung.

Dengan malas, ia bangkit lalu keluar menghampiri istrinya.

"Itu teman sampean masuk TV," kata Inem sambil menunjuk layar televisi.

Mata Adung terbelalak menyaksikan apa yang tergambar di TV. Keningnya mengkerut. Ia duduk pelan-pelan di samping istrinya sambil fokus menyaksikan siaran langsung penangkapan seorang pria di sebuah rumah yang tak asing baginya.

Istri dan anak si pria meraung-raung menyaksikan aparat memborgol tangan pria itu, lalu menggiring masuk ke dalam mobil. Si pria tak berdaya. Kepalanya tertunduk dengan muka lesu menghadap tanah.

"Apa sebab Lahab ditangkap?," tanya Adung.

"Dia disangka korupsi," timpal Inem. "Uang satu kresek disita, mobilnya juga dibawa aparat."

Adung hanya terdiam mendengar penjelasan singkat istrinya itu. Ia enggan menanyakan lebih rinci soal korupsi apa yang disangkakan kepada teman akrabnya itu.

"Makanya Lahab bisa bermewah-mewah," pikir Adung.

"Makanya jangan marah bila aku tak mau diajak berlibur dan berfoya-foya di Bukit Nirwana. Mau pakai uang korupsi? Mau nginap di penjara?," Inem menyela, seolah-olah tahu jalan pikiran Adung.