Alasan Wali Murid Harus Hormati Guru Anaknya

Ilustrasi Hari Guru Nasional yang diunggah Jokowi.
Sumber :
  • akun medsos Jokowi via VIVA.co.id

Surabaya, VIVA Jatim – Seorang guru madrasah diniyah (madin) di Demak, Jawa Tengah, bernama Ahmad Zuhdi, jadi sorotan belakangan ini. Itu setelah dirinya dilaporkan seorang wali murid ke polisi dan didenda Rp25 juta. Zuhdi dilaporkan karena diduga menampar anak si wali murid sebagai tindakan pendisiplinan. Perselisihan itu berujung damai setelah viral dan dimediasi.

img_title Santri Ponpes BIMA Tembus Rusia hingga China, Gus Muhaimin: Ini Modal Indonesia Emas

Kasus Zuhdi adalah yang terkini. Sebelum-sebelumnya, kasus wali murid melaporkan guru ke polisi karena tak terima anaknya dihukum atau ditindak sebagai bagian dari pendisiplinan juga tersiar ke publik. Belum lagi yang tak terpublikasi, juga ditemukan kasus serupa terjadi.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya berpendapat bahwa kasus guru madin dipolisikan dan didenda wali murid di Demak menandakan kurangnya wali murid mengapresiasi guru. Padahal, guru, apalagi yang berkhidmat di madrasah diniyah, biasanya melaksanakan tugasnya tanpa dukungan kesejahteraan yang memadai.

img_title Haflah Ibu

“Mari kita sebagai orang tua yang menitipkan anak-anaknya kepada guru untuk mendapatkan pendidikan, kita harus punya apresiasi yang lebih. Apalagi guru-guru dengan fasilitas kesejahteraan yang sangat minimal untuk mereka,” kata Gus Yahya dikutip dari NU Online, Rabu, 23 Juli 2025.

Di lingkungan masyarakat pesantren, guru sangat dimuliakan, bukan hanya oleh murid yang sehari-hari bersentuhan langsung dengan guru, tapi juga oleh para orang tua yang menitipkan anaknya untuk belajar di madrasah atau pesantren. Tidak hanya di lingkungan pendidikan, ketika di luar guru juga dihormati.

img_title Haul Akbar Ploso, Gus Muhaimin Ajak Santri Lanjutkan Jejak Perjuangan Masyayikh

Penghormatan terhadap guru ini didasarkan pada kesadaran tentang pentingnya peran guru dalam mendidik murid agar mereka tidak bodoh dan menjadi insan yang berprilaku baik, serta mengarahkan jalan hidup mereka menuju kebaikan dan kesuksesan.

Para orang tua di masyarakat pesantren menyadari betul peran besar para guru . Sementara para orang tua bisa santai dan tenang beraktivitas macam-macam di rumah, para guru sehari-hari justru menghadapi anak-anak mereka dengan beragam karakter dan tindak-tanduk. Tapi guru tetap telaten menghadapi murid-murid mereka yang terkadang bikin puyeng. Guru sangat puas bila murid-muridnya berprestasi dan berakhlak baik, meski kesejahteraannya sendiri acapkali terabaikan.

Halaman Selanjutnya
img_title