Langkanya Maling Buku

Buku-buku di salah satu kedai di Sumenep, Madura.
Sumber :
  • Dokumen pribadi

Awalnya, lemari buku itu dimasukkan ke dalam gudang ketika kedai sudah tutup. Khawatir hilang. Lama-lama capek menyeret lemari keluar-masuk, maka dibiarkan di luar terus. Kadang dibiarkan tidak terkunci berhari-hari.

img_title Madura United Gelar Pemusatan Latihan di Yogyakarta

"Siapa yang tergiur mencuri buku," kata Imama.

Sebulan, dua bulan, hingga berbulan-bulan tetap begitu. Tak ada pengunjung yang membaca buku di lemari kaca itu. Pun tak ada yang mencuri buku-buku itu meski lemari kerap tak dikunci.

img_title Madura United Launching Tim di Pondok Pesantren

"Bawa pulang saja lemari dan bukunya. Tak ada yang membaca juga," ujar Imama.

Imama mungkin kecewa. Tapi dia juga lupa ini bukan tahun 1990-an ke bawah. Masa itu, buku adalah barang langka dan harganya sulit dijangkau. Siswa zaman itu tahunya hanya buku mata pelajaran sekolah.

img_title Jasindo Catat Pertumbuhan Premi 53,38% di Jatim, Kini Bidik Sektor Produktif

Tapi justru karena barang ekslusif, buku saat itu banyak diincar kalangan yang haus pengetahuan, terutama di kampus-kampus. Mereka ingin mengeruk dalamnya ilmu pengetahuan dari ceruk yang paling dalam dan luasnya yang tak terbatas. Dari buku bisa mereka dapatkan.

Dorongan memburu buku saat itu bukan hanya karena haus akan pengetahuan. Bukan sekadar dipengaruhi tradisi membaca buku yang kuat. Tapi juga sebagai bagian dari gaya hidup, terutama di kalangan mahasiswa di kampus-kampus. Juga di kalangan santri di pesantren-pesantren.

Menenteng buku segepok tebal-tebal rasanya seperti yang paling aku. Biar pun tidak dibaca, paling tidak terlihat keren bila berjalan di depan mahasiswi yang duduk bergerombol. Di lingkungan pesantren, santri merasa paling rajin dan menuju status alim bila ke sana ke mari tangannya mengapit kitab.

Karena itu, dulu banyak kasus perpustakaan kehilangan buku. Bisa dicuri atau dipinjam tak kembali-kembali. Banyak juga cerita pemilik buku kehilangan banyak koleksi bukunya karena dipinjam teman gak dibalek-balekno. Saking lamanya sampai lupa siapa yang meminjam.

Saking biasanya pinjam-meminjam buku tapi tak kembali, sampai-sampai anekdot Gus Dur, "hanya orang bodoh yang mau meminjamkan bukunya, dan hanya orang gila yang mau mengembalikan buku yang sudah dia pinjam", ini terkenal di lingkungan kampus dan aktivis. Jadi pembenar bahwa mengambil atau meminjam buku tanpa dikembalikan adalah boleh.

Halaman Selanjutnya
img_title