Penalti So
- VIVA.co.id
TUBUHNYA tinggi besar. Kulitnya hitam. Tampangnya sangar. Matanya agak merah. Ia seperti preman di film-film India. Bercanda pun seperti marah-marah. Siapa tak kenal kemungkinan bakal merinding bila mengobrol dengannya. Setidaknya dirasakan saya ketika bercakap-cakap dengannya pada satu waktu di sebuah kedai langganan saya nongkrong.
Tak tahu siapa nama lengkapnya. Teman-temannya biasa memanggil dia So. Maka ketika saya duduk satu meja dan mengobrol, saya ikut-ikutan memanggil dia Mas So. Lalu kami basa-basi berkenalan, tanya rumah dan sudah punya berapa anak. Soal pekerjaan saya tak bertanya. Saya menebak dia seorang sopir karena setiap nongkrong selalu membawa mobil L300 yang biasa dipakai para sopir mengangkut orang di desa.
So mengaku punya tiga anak. Semuanya perempuan. Anak yang pertama sudah menikah dan sudah punya anak. Sebelum menikah, So memondokkan putri sulungnya itu di sebuah pondok pesantren di Sumenep, Madura. Ketika masih tingkat Aliyah, putrinya pernah merayu ayahnya agar membelikan mobil kecil. Si putri ingin belajar nyetir sendiri lalu jalan-jalan bersama teman-temannya ketika liburan tiba.
So tak mengiyakan, juga tidak menolak. Ia hanya berjanji akan dibelikan sedan jika meraih peringkat satu di sekolah. Ternyata si putri berhasil. So menepati janjinya lalu ia belikan putrinya mobil sedan lawas, Timor. Untuk ukuran di desa, mobil sedan sudah terbilang bagus. Apa pun merek dan berapa pun harganya, pokoknya sedan dibilang mobil mewah.
Sedan Timor itu kemudian mangkrak di rumah ketika putrinya menikah. So melarang sedannya dibawa karena menantunya tak bisa menyetir. Katanya, tidak pantas perempuan mengemudi sementara suaminya jadi penumpang. Orang desa beranggapan, dalam hal apa pun laki-laki harus terlatih jadi pemimpin.
Sebagai solusinya, So membeli Suzuki Carry lalu dioperasikan sebagai angkutan umum yang dijalankan temannya. Setiap mau jalan, So meminta temannya yang mengoperasikan Carry-nya agar mengajari menantunya mengemudi. Satu waktu si menantu dan istrinya (putri So) jalan-jalan dengan Carry seken itu. Agar lanyah, si suami yang mengemudi. Hasilnya, badan samping kiri mobil itu langsung baret panjang setelah diserempetkan ke dinding garasi.
Tentu saja suami-istri muda itu takut bukan kepalang. Mereka khawatir So marah. Ternyata di luar dugaan mereka. Dengan santai So membawa Carry-nya lalu dipermak lagi. “Biasa, orang belajar pasti ada salahnya,” katanya menirukan ucapannya kepada putri dan menantunya itu.
Anak kedua So masih remaja. Sekarang masih belajar di sebuah pondok pesantren tahfidz di Sumenep. Dia berencana memindahkan anaknya itu ke Pondok Pesantren Sukorejo, Situbondo, setelah masuk tingkat Aliyah nanti. Sementara anak ketiganya masih kecil.
Ternyata hati So tak seseram badan dan tampangnya. Hatinya lembut dan penyayang. Contohnya pada keluarganya itu. Dia juga lelaki bertanggung jawab. Ia tak memanfaatkan bongsor tubuh dan tampang garangnya untuk menghidupi diri dan keluarganya dengan cara kriminal. Ia memilih jalan halal dan keterampilan otodidaknya di bidang otomotif.
Hanya sekali-kali saja So memasang sikap keras dan garang. Itu terpaksa ia lakukan jika merasa diperlakukan tidak adil. Satu waktu di tahun berlalu, So bercerita terpaksa meminjam uang ke sebuah bank untuk membeli mobil L300 seken. Mobil itu ia butuhkan karena pekerjaan utamanya memang sopir. Setiap hari ia menyisihkan sebagian uang hasil nyopir¬-nya lalu ditabung di rekening bank tempat ia kredit untuk bayar cicilan sekitar Rp1,5 juta.
Karena kegigihannya bekerja ia mampu menabung Rp50 ribu setiap hari hingga terkumpul sebesar angka angsurannya setiap bulan. Setahun kemudian, So tiba-tiba ditelepon pihak bank. Katanya dia sudah menunggak selama 12 kali alias setahun. Tentu saja So kaget campur emosi. Bagaimana bisa uang yang dia masukkan ke rekening untuk angsuran tidak tercatat sebagai pembayaran? Padahal, setiap tanggal jatuh tempo uang di rekeningnya otomatis tersedot untuk angsuran.
Ia lalu mendatangi bank. Menanyakan kenapa bisa menunggak setahun padahal ia terus memasukkan duit ke rekening paling tidak sesuai besaran angsuran. Pihak bank menjelaskan di sistem tidak pernah tercatat menerima uang pembayaran kredit. So lalu meminta agar buku rekeningnya dicetak. Nah, di situ jelas tercatat uang-uang yang masuk, juga yang keluar.
“Kalau memang dibilang menunggak, kenapa uang yang saya tabung tetap terkuras? Padahal saya hanya menabung, tidak pernah menarik [mengambil uang],” ujar So bersungut-sungut.
Petugas bank akhirnya terdiam. Tak mau kehilangan muka, jurus pamungkas dikeluarkan petugas bank: tunggu arahan pimpinan. So tidak mau. Ia meminta saat itu juga bertemu pimpinan bank dan ingin bicara sendiri. Petugas bilang pimpinannya masih dinas luar. Akhirnya So pulang dan hanya bisa menunggu.
Akhirnya bagaimana? “Beres. Sekarang sudah lunas,” ucapnya.
Tahun-tahun berikutnya ia meminjam uang lagi ke bank dengan nilai yang sama dan angka angsuran yang juga sama, sekitar Rp1,5 juta per bulan. Terpaksa. Sama dengan sebelumnya, ia berusaha keras untuk tidak menunggak. Ketika cicilan tersisa 10 kali, So mendapatkan arisan. Dengan uang arisan itu, ia berniat melunasi. Ia pun mendatangi bank dan menyampaikan niat baiknya itu.
Sesampai di bank, ia menerima penjelasan dari petugas bank jika dilunasi maka akan terkena penalti 5 kali angsuran. Itu artinya, So harus membayar lebih Rp15 juta plus penalti 5 kali angsuran. Nah, saat itulah kegarangannya muncul. Ia memarahi petugas itu. Ia merasa pihak bank menghambat niat baik dirinya untuk melunasi kredit.
So heran, kenapa penalti kredit di bank tidak sama dengan penalti di sepak bola. Di permainan bola sepak, penalti artinya hukuman atau sanksi akibat pelanggaran yang dilakukan oleh pemain di kotak dekat gawang. Di bank, penalti justru diberikan kepada debitur yang punya niat baik untuk membayar lunas agar tidak terjebak pelanggaran kredit macet.
Petugas bank kukuh pada aturan yang dibuat kantornya. So juga begitu. Dia tetap memasang sikap garang. Tidak ada solusi lalu So pulang. Disulut emosi, dia merencanakan usil ke bank. Ia tidak membayar cicilannya. Tapi uang pelunasannya tetap ia siapkan. Tidak dipakai. Setelah dua bulan, telepon dari petugas bank berdering setiap hari, bahkan setiap jam. So cuek. Tidak diangkat, malah kadang di-reject.
Lama-lama So tak tahan juga. Ia akhirnya mengangkat telepon petugas bank. Tapi langsung marah-marah. Petugas bank balas marah, bahkan mengancam akan menyita rumahnya yang sertifikatnya dijadikan agunan. So tambah marah-marah. Ia malah menantang petugas agar segera menyita rumahnya.
“Sekarang saya yang penalti kamu,” sergah So kepada petugas bank.
So hanya berniat mengerjai bank karena dia merasa diperlakukan tidak adil. Mau melunasi kredit malah diminta membayar lebih banyak dari hitung-hitungan utang dan bunganya. Ia tak bermaksud tak membayar. Karena ituia akhirnya membayar angsurannya, tentu saja setelah merasa puas mengerjai bank. Ia lalu melunasi ketika tersisa 5 kali angsuran.
Apakah masih kena penalti?
“Tidak,” katanya sambil cengar-cengir.