Haflah Ibu
- Madchan Jazuli/Viva Jatim
HARI lahir Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin (NASA) Gapura Timur, Gapura, Kabupaten Sumenep, tahun ini mengangkat tema "Ibu: Gua Pertapaan; Tempat Kemuliaan". Itu berbeda dengan tema haflah sebelum-sebelumnya yang biasanya berkaitan secara langsung dengan pendidikan di lingkungan pesantren atau madrasah. Ibu selama ini dipandang di luar lembaga pendidikan karena itu cukup diingat saat kata sambutan disampaikan di atas panggung saja.
Tahun ini harlah NASA yang ke-67. Orang-orang sekitar lebih sering menyebut harlah dengan imtihan, penyederhanaan dari haflatul imtihan, perayaan kenaikan kelas setelah lulus ujian. Panitia memilih istilah harlah daripada haflah karena mengikuti peringatan hari lahir pesantren, bukan keberadaan madrasahnya. Perayaannya dirangkai dengan aneka kegiatan menarik dan mendidik. Biasanya lomba-lomba. Berhari-hari. Acara puncak diisi dengan pengajian umum dengan mengundang seorang pendakwah atau da’i.
Saya hadir saat pembukaan Harlah ke-67 NASA pada 17 Juni 2026 lalu. Seremoni saja. Di sana disampaikan bahwa puncak acara dilaksanakan dua malam: 29 dan 30 Juni 2026. Malam pertama khusus untuk putri, ditausiahi oleh penceramah kondang nan humoris KH Musleh Adnan dari Pamekasan. Sementara malam kedua mengundang pendakwah muda dari Jember, Gus Rijal Mumazziq Zionis. Saya kenal penceramah yang terakhir karena satu almamater saat kuliah di Fakultas Syariah IAIN (kini UIN) Sunan Ampel Surabaya.
Yang menarik adalah ulasan Pengasuh PP NASA Kiai A Dardiri Zubairi tentang sosok ibu yang dijadikan tema pada harlah. “Ibu, dalam falsafah masyarakat Madura, disimbolkan sebagai gua untuk bertapa. Maka seorang anak harus bertapa untuk ibunya. Bertapa di sini bukan berarti berpuasa atau mengasingkan diri, tetapi berusaha menjadi pribadi yang baik dan senantiasa mencari rida ibunya,” katanya saat sambutan.
Kenapa ibu harus dimuliakan? Karena penderitaan dan pengorbanan ia jalani tanpa pamrih sejak mengandung, melahirkan, hingga menuntun dan mendampingi tumbuh kembang anak. Ibu rela menunda kebutuhan yang lain demi untuk memberesi pertumbuhan dan pendidikan anak. Ibu pula yang dengan telaten mengenali apa yang dilihat dan disentuh, berbicara, berjalan, dan lainnya. Karena itu tak salah jika ibu disebut sebagai madrasah pertama.