Haflah Ibu
- Madchan Jazuli/Viva Jatim
Pesantren, madrasah, dan sekolah hanya meneruskan pendidikan anak yang dimulai oleh ibu. Bahkan ketika anak sudah belajar di pesantren, madrasah, atau sekolah, ibu tetap mendampingi dan membimbing agar daya serap buah hatinya akan ilmu pengetahuan yang digali di lembaga pendidikan tercerna dengan baik, juga teramalkan. Sehari-hari ibu menjalani ujian membina anaknya. Karena itu memuliakan ibu tidak harus menunggu haflah atau perayaan. Haflah ibu mestinya setiap waktu karena hari-harinya adalah ujian membina anak dan pasti lulus.
PP NASA, kata Kiai Dardiri, tidak hanya bertugas menularkan ilmu pengetahuan. Misi utama dan besarnya ialah membangun peradaban dan membentuk manusia yang berakhlak mulia. Karena itu, pendidikan karakter harus ditanamkan sejak usia dini. Artinya, pesantren dan lembaga pendidikan formal meneruskan bentukan karakter yang dimulai seorang ibu. Semua pesantren juga memiliki komitmen yang sama seperti itu: membangun peradaban Islami yang mulia dengan mencetak generasi yang berakhlak mulia.
Kata kuncinya adalah akhlak mulia agar generasi yang ditelurkan menjunjung tinggi keadaban. Karena buat apa pintar dan cerdas jika kepintaran dan kecerdasannya hanya bikin orang lain merugi. Jadi pejabat malah korupsi. Jadi pengusaha mencurangi konsumen. Ahli teknologi cuma dibuat menipu orang. Jadi pengelola pendidikan justru dipakai untuk mengentit duit lembaga. Yang begitu-begitu sekarang sudah banyak kasusnya dan mereka yang terjerat kebanyakan adalah orang-orang berpendidikan, tapi mengabaikan integritas dan moralitasnya.
Itulah sebabnya, pesantren dijadikan tiang oleh organisasi terbesar di negeri ini, Nahdlatul Ulama. Organisasi yang didirikan oleh para ulama pengasuh pesantren dengan warganya yang mayoritas adalah masyarakat pesantren. Karena itu pula karakter dasar NU sama dengan karakter pesantren. Nilai-nilai yang dilestarikan di NU juga sama dengan yang diajarkan di pesantren. Tujuan yang diusung oleh NU juga mengadaptasi apa yang coba digapai oleh NU: yakni membangun peradaban emas.
Dalam lingkup luas, pesantren adalah ibunya NU. Karena itu siapa pun yang mengaku NU, apalagi jadi pengurus NU, sudah seharusnya menjaga nilai-nilai yang diajarkan dan dilestarikan di pesantren. Juga sudah semestinya memuliakan ulama dan kiai yang secara tulus mengasuh para santri di pesantren.