Muktamar NU dan Masa Depan Jaringan Global Nahdliyin

Bendera NU saat acara Harlah Nahdlatul Ulama.
Sumber :
  • Nurcholis Anhari Lubis/Viva.co.id

NAHDLATUL Ulama (NU) hari ini bukan lagi organisasi yang hidup di ruang-ruang pesantren dan desa-desa di Indonesia saja. Dalam dua dekade terakhir, NU tumbuh menjadi organisasi Islam dengan jejaring internasional yang kian kuat. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) kini berdiri di lebih dari 30 negara, mulai dari Mesir, Arab Saudi, dan Yordania di Timur Tengah, Jerman, Inggris, dan Belanda di Eropa, hingga Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Amerika Serikat. Jumlah itu terus bertambah seiring bertumbuhnya diaspora pelajar, pekerja migran, dan profesional Indonesia di luar negeri.

img_title Kiai Imjaz di Mata Gus Ipang Cicit Mbah Hasyim: Dia Pemimpin Masa Depan NU

Bagi warga Nahdliyin di perantauan, PCINU bukan sekadar tempat berkumpul. Mereka menjadi duta kebudayaan, ruang produksi gagasan, sekaligus wajah Islam Indonesia di panggung global. Sejumlah kader NU yang dulu berangkat sebagai mahasiswa kini menjadi akademisi, peneliti, diplomat, profesional, bahkan penggerak organisasi internasional.

Sayangnya, pertumbuhan itu belum diimbangi pembenahan tata kelola organisasi. Di tengah besarnya potensi yang dimiliki PCINU, hubungan kelembagaannya dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masih menyisakan sejumlah persoalan mendasar.

img_title Zainuddin Ungkap Alasan Kiai Asep Layak Masuk Tim AHWA di Muktamar NU ke-35

Menjelang Muktamar ke-35 NU yang akan digelar di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026, pembahasan mengenai masa depan hubungan PBNU dan PCINU semestinya menjadi salah satu agenda penting. Yang dipertaruhkan bukan hanya efektivitas organisasi, melainkan juga kemampuan NU mengelola modal intelektual yang selama ini dibangun di berbagai belahan dunia.

Salah satu persoalan yang paling sering muncul adalah komunikasi yang belum berjalan optimal. Selama ini, hubungan PBNU dengan puluhan PCINU cenderung berlangsung secara langsung dan administratif. Model seperti ini membuat koordinasi memakan waktu panjang, sementara ruang dialog substantif baru muncul menjelang Muktamar atau forum-forum besar lainnya.

img_title Jelang Muktamar NU ke-35, Forbes NU 26 Serukan 9 Langkah Reflektif terkait Tambang

Padahal setiap PCINU menghadapi situasi yang sangat berbeda. Tantangan PCINU di Mesir tidak sama dengan PCINU di Jepang, Inggris, Australia, atau Amerika Serikat. Perbedaan regulasi, budaya, dan kebutuhan masyarakat setempat membuat pendekatan organisasi yang seragam menjadi kurang efektif.

Akibatnya, banyak gagasan yang lahir dari kader NU di luar negeri tidak pernah benar-benar masuk ke proses pengambilan kebijakan organisasi. Padahal mereka membawa pengalaman internasional yang sangat berharga bagi pengembangan NU ke depan.

Halaman Selanjutnya
img_title