Di Balik Pertemuan Prabowo dan Megawati
- Dokumen Dr. Muria Endah Sokowati, S.IP., M.Si.
Hal yang kurang lebih sama terlihat pada rombongan Prabowo. Dasco, Prasetyo Hadi, dan Teddy mempunyai jabatan dan fungsi institusional yang berbeda. Perbedaan fungsi tersebut membuat ketiganya tidak tepat disatukan dalam kategori politik yang tidak pernah mereka nyatakan sendiri. Yang dapat dikatakan berdasarkan apa yang terlihat hanyalah bahwa pertemuan Prabowo dan Megawati berlangsung dengan kehadiran sejumlah figur penting di sekitar kedua tokoh tersebut.
Fakta tersebut menambah dimensi publik pada sebuah perjumpaan yang konteks utamanya tetap bersifat personal. Di sinilah penting untuk membedakan secara tegas antara makna komunikatif dan bukti politik. Foto tersebut merupakan dokumentasi bahwa pertemuan berlangsung, Prabowo diterima oleh Megawati, keduanya berbincang dalam jarak yang dekat, dan sejumlah figur penting hadir di ruangan yang sama.
Namun, foto itu tidak dapat dijadikan bukti adanya negosiasi atau kesepakatan politik. Bahkan, keterangan yang disampaikan Said Abdullah justru menyebutkan bahwa tidak ada pembicaraan politik dalam pertemuan tersebut. Makna pertemuan tersebut tidak harus dicari melalui dugaan tentang agenda tersembunyi. Hubungan personal yang tetap terpelihara, akses komunikasi yang terbuka, serta kemampuan dua tokoh dengan posisi politik berbeda untuk tetap bertemu dalam suasana personal merupakan fakta sosial yang memiliki nilai komunikatif.
Apa yang tidak tampak dalam dokumentasi tersebut juga membantu membatasi interpretasi. Tidak ada podium bersama, penandatanganan dokumen, konferensi pers, atau deklarasi politik. Tidak ada pula hal yang secara terbuka menunjukkan adanya kesepakatan formal. Sebaliknya, yang terlihat adalah rumah, sofa, percakapan, suasana duka, serta orang-orang terdekat di sekitar kedua tokoh. Konteks semacam ini lebih kuat mengarahkan pembacaan kepada hubungan personal, penghormatan, dan keterbukaan komunikasi daripada kepada transaksi politik.
Pertemuan tersebut juga dapat dibaca dalam konteks sosial dan budaya Indonesia. Kita mengenal tradisi silaturahmi, bertamu, menjenguk, sowan, dan takziah sebagai praktik sosial yang memungkinkan hubungan antarmanusia tetap terjaga meskipun terdapat perbedaan pandangan, kepentingan, bahkan pilihan politik.
Dalam konteks inilah pertemuan Prabowo dan Megawati memperoleh makna yang lebih luas. Keduanya bukan hanya dua figur politik nasional dengan posisi dan perjalanan politik yang berbeda, tetapi juga dua individu yang tetap berada dalam ruang sosial yang memungkinkan penghormatan dan hubungan personal tetap terjaga. Ketika praktik semacam itu dilakukan oleh tokoh-tokoh dengan posisi publik yang sangat kuat, peristiwa yang pada dasarnya bersifat personal secara otomatis memperoleh dimensi publik. Bukan karena takziah tersebut merupakan pesan politik yang sengaja dirancang, melainkan karena tindakan figur politik hampir selalu dibaca publik dalam kaitannya dengan posisi dan relasi politik mereka.