Di Balik Pertemuan Prabowo dan Megawati
- Dokumen Dr. Muria Endah Sokowati, S.IP., M.Si.
Nasi goreng tentu tidak perlu dibebani sebagai simbol politik. Yang lebih penting justru adalah keberlanjutan pertemuan tersebut. Jika takziah merupakan pertemuan yang lahir karena sebuah peristiwa duka, maka rencana untuk kembali duduk dan makan bersama merupakan perjumpaan yang direncanakan setelahnya. Artinya, komunikasi yang terbuka pada momentum takziah tidak berhenti setelah kunjungan belasungkawa selesai.
Ada keinginan untuk melanjutkan pertemuan dalam suasana yang lebih santai. Dengan demikian, “kesepakatan politik” yang dapat dibaca dari peristiwa ini bukanlah kesepakatan tentang siapa yang bergabung dengan siapa atau keputusan politik apa yang telah dibuat. Kesepakatannya berada pada tingkat yang lebih elementer: Prabowo dan Megawati sama-sama membuka ruang untuk terus berkomunikasi.
Dalam politik, kesediaan untuk mempertahankan saluran komunikasi semacam itu bukanlah hal yang tanpa makna. Ia dapat menjadi prasyarat bagi lahirnya kesepahaman yang lebih substantif di kemudian hari, meskipun arah dan hasilnya belum dapat diketahui saat ini. Maka, makna pertemuan Prabowo dan Megawati tidak perlu berhenti pada kesimpulan normatif bahwa kedua tokoh politik dapat tetap bersahabat meskipun berbeda posisi.
Pertemuan itu dapat dipahami lebih jauh sebagai kesepakatan politik untuk menjaga komunikasi tetap terbuka. Belum ada dasar untuk menyebutnya sebagai koalisi, rekonsiliasi politik, atau kesepakatan mengenai agenda tertentu. Namun, terdapat cukup alasan untuk melihat bahwa kedua pihak memilih untuk tidak menutup pintu satu sama lain. Jika pertemuan lanjutan sambil menikmati nasi goreng benar-benar berlangsung, kita mungkin akan memperoleh konteks baru untuk memahami arah komunikasi tersebut.
Untuk saat ini, justru itulah tafsir politik yang paling dapat dipertanggungjawabkan: belum ada kesepakatan tentang ke mana mereka akan berjalan bersama, tetapi sudah tampak kesepahaman bahwa komunikasi di antara keduanya perlu terus berjalan.
*Dr. Muria Endah Sokowati, S.IP., M.Si. adalah dosen Magister Media dan Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Catatan: Artikel ini murni pendapat pribadi penulis, tidak mewakili opini redaksi VIVA Jatim.