Mengapa Tubuh Kita Lebih Cepat Mengantuk Saat Udara Dingin dan Mendung?

Ilustrasi mengantuk
Sumber :
  • Viva

Surabaya, VIVA Jatim – Pernahkah Anda merasa lebih cepat mengantuk, lelah, atau malas bergerak saat cuaca di luar sedang mendung atau dingin? Bukan sekadar perasaan—ternyata, kondisi tubuh kita memang merespons cuaca seperti ini secara ilmiah.

img_title Kapolri ke Surabaya, Pimpin Hari Juang Polri hingga Tinjau Baktikes

Dari kerja hormon sampai efek psikologis, inilah penjelasan lengkap mengapa tubuh cenderung mengantuk saat langit tak cerah.

1. Penurunan Paparan Sinar Matahari Menurunkan Hormon “Pencerah”

img_title Jasindo Catat Pertumbuhan Premi 53,38% di Jatim, Kini Bidik Sektor Produktif

Saat langit mendung, sinar matahari berkurang drastis. Padahal, cahaya alami sangat penting untuk:

  • Menekan hormon melatonin (hormon tidur),
  • Meningkatkan hormon serotonin, yang membuat kita lebih bahagia dan waspada.
img_title Dorong Produktivitas Cabai di Jatim, Petrokimia Gresik Gelar Pestani Rawit Groo

Tanpa cukup cahaya, tubuh kita mengira hari belum "sepenuhnya dimulai", sehingga produksi melatonin tidak ditekan. Akibatnya, rasa kantuk terus bertahan.

“Kurangnya sinar matahari bisa mengganggu jam biologis tubuh (circadian rhythm), yang berujung pada kelelahan dan kantuk,” jelas Dr. Michael J. Breus, pakar tidur dari American Academy of Sleep Medicine.

2. Suhu Dingin Memperlambat Sistem Saraf dan Metabolisme

Udara dingin menyebabkan tubuh berusaha mempertahankan panas:

  • Pembuluh darah mengecil (vasokonstriksi),
  • Aktivitas metabolik melambat untuk menghemat energi.

Ini membuat tubuh berada dalam kondisi “hemat daya”, mirip seperti mode tidur. Tak heran jika selimut terasa lebih mengundang daripada kursi kerja.

“Secara evolusioner, saat dingin tubuh kita cenderung mencari tempat aman dan hangat untuk istirahat,” kata Dr. Lisa Medalie dari University of Chicago.

3. Langit Mendung Picu Efek Psikologis “Low Mood”

Awan gelap dan hujan ringan memicu suasana batin yang muram. Hal ini dapat: Menurunkan motivasi, meningkatkan produksi hormon kortisol (stres) dan mengganggu fokus dan semangat.

Studi dari Journal of Affective Disorders menyebut bahwa langit kelabu mengurangi aktivitas otak di bagian korteks prefrontal, yang berperan dalam fokus dan pengambilan keputusan. Akibatnya, muncul rasa malas dan kantuk secara psikologis.

4. Respons Adaptif Tubuh: Istirahat di Cuaca Tidak Mendukung Aktivitas

Secara naluriah, manusia sejak zaman dahulu mengurangi aktivitas luar ruangan saat: musim hujan, suhu rendah dan hari mendung tanpa matahari.

Dalam konteks ini, kantuk adalah mekanisme perlindungan alami tubuh agar energi tidak terkuras. Ini bisa disebut sebagai “konservasi energi pasif” yang selaras dengan cuaca buruk. 

Halaman Selanjutnya
img_title