Menengok Pondok Ramadan Lansia Blitar, Semangat Mengaji Tak Pernah Pudar

Pondok Lansia Al-Mawaddah di Blitar sedang mengaji.
Sumber :
  • Viva Jatim/Madchan Jazuli

Blitar, VIVA Jatim – Ketika para lelaki keluar masjid usai Salat Jum'at di Masjid Mustajabud Da'awad, tampak jemaah sudah sepi, giliran para lansia berbondong-bondong ke arah masjid.

img_title Kreasi Pemuda Tanpa Batas Surabaya Beri Pengobatan Gratis Ratusan Lansia dan Difabel

Mereka merupakan peserta yang mengikuti kegiatan selama Ramadan di Pondok Janda Lansia Al-Mawaddah, Dusun Bendelonje Desa Kendalrejo Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar.

Beberapa ketika penulis mencoba mendekat ke surau berdinding anyaman bambu, mereka bercengkerama. Beberapa di antaranya tengah mengambil air wudhu tak jauh dari surau.

img_title Viral! Lansia di Mojokerto Dievakuasi Naik Truk karena Desa tak Punya Mobil Siaga

Kala rintik-rintik hujan turun, sejurus kemudian mengangkat jemuran yang berjejer di sebelah timur surau. 

Salah satu pengasuh Pengasuh Pondok Ramadan Lansia, Sri Banun mengatakan bahwa Pondok Lansia ini diadakan masih berada di rumah saudaranya pada 2010. Saat itu jumlah pesertanya 23 lansia di lingkungan sekitar.

img_title Sempat Dinyatakan Hilang, Lansia 98 Tahun di Gresik Ditemukan Tewas di Sumur

"Yang membiayai juga bulek, kegiatannya mengaji, malam juga shalat malam. Termasuk kita bekerjasama masak dulu bersama-sama," ujar Sri Banun kepada VIVA Jatim, Jum'at, 7 Maret 2025.

Dirinya menerangkan orang-orang apabila akan mengerjakan salat malam susah dan tidak nyaman di rumah orang lain. Akhirnya, atas saran dan masukan serta persetujuan Takmir Masjid bisa ditempati untuk kegiatan salat maupun mengaji.

"Ibu-ibu minta dukungan dari Anak Cabang Ibu Munawaroh bagaimana diteruskan. Akhirnya di masjid ini pesertanya di tahun kedua itu 37, sampai sekarang pesertanya 65," paparnya.

Ada yang menarik dari pengamatan di lokasi. Surau sederhana berbentuk pampang berlantai kayu dan dinding anyaman bambu.

Surau tersebut eks lokasi mengaji anak-anak. Dahulu banyak anak-anak yang mengaji ke salah satu kiai keluarga masjid. Namun karena berpindah dan tidak ada yang meneruskan menjadi sepi tak ada yang mengaji.

Sri Banun mengaku kebanyak peserta hanya berapa dari desa setempat. Yang banyak dari desa-desa se-Kecamatan Talun dan kecamatan tetangga 5 sampai 6 orang per desa.

"Selain itu dari Malang itu dua orang.

Dari Kalimantan satu orang, Banjarmasin kemarin sudah diminta keluarganya," imbuhnya.

Perempuan yang aktif di Muslimat NU ini mengatakan kebanyakan peserta ikut dengan alasan supaya bisa mengaji. Menjadi orang tua yang berguna, sebab apabila di rumah tidak ada teman untuk saling tadarus menyimak.

Halaman Selanjutnya
img_title