Rumah Praktek Mantan Rektor Unair Surabaya dr Puruhito Kebakaran
- Dpkp Surabaya
Surabaya, VIVA Jatim – Rumah praktek milik dr Puruhito, sekaligus mantan rektor Universitas Airlangga (Unair) di Jalan Trunojoyo, Kelurahan Dr Soetomo, Kecamatan Tegalsari, Kota Surabaya, mengalami kebakaran, Rabu, 11 Maret 2026.
Penyebab kebakaran diduga karena korsleting listrik.
Kepala Bidang Pemadaman Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya M Rokhim mengatakan, laporan kebakaran diterima petugas pada pukul 15.15 WIB. Tak lama berselang, tim pemadam langsung menuju lokasi.
"Unit tempur dari Pos TVRI tiba di tempat kejadian pada pukul 15.21 WIB dan langsung melakukan upaya pemadaman," ujar M Rokhim dalam keterangannya.
Untuk menangani kebakaran tersebut kata dia, pihaknya mengerahkan tujuh unit kendaraan pemadam kebakaran dan lima unit kendaraan rescue. Unit tersebut berasal dari Pos Grudo, Rayon 1 Pasar Turi, Pos TVRI, Posko Taktis Joyoboyo, serta Pos Menur.
Rokhim menyebut, api utama berhasil dipadamkan pada pukul 16.08 WIB. Petugas kemudian melanjutkan proses pembasahan hingga situasi dinyatakan aman dan kondusif pada pukul 17.21 WIB.
Bangunan rumah berukuran sekitar 15 x 15 meter tersebut tak sepenuhnya ludes terbakar. Area yang terbakar seluas kurang lebih 4 x 5 meter. Bagian yang terdampak kebakaran meliputi ruang kerja dan musala.
Dia memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Meski begitu, tiga orang penghuni rumah sempat terjebak, namun berhasil menyelamatkan diri sebelum api membesar.
"Korban jiwa nihil. Tiga penghuni yang berada di dalam rumah berhasil keluar dan selamat," tutupnya.
Dilansir dari berbagai sumber, dr Puruhito merupakan Rektor Universitas Airlangga Surabaya periode 2001-2006.
Beliau merupakan dokter ahli bedah jantung yang vokal dalam isu-isu kedokteran, termasuk menanggapi rencana dokter asing dan mengkritik prosedur pemecatan Dekan Fakultas Kedokteran Unair.
Yang bersangkutan juga dikenal aktif dalam civitas akademika Fakultas Kedokteran Unair.
Puruhito juga pernah berpendapat bahwa Indonesia tidak kekurangan dokter spesialis, melainkan bermasalah pada distribusi atau penempatan tenaga medis.
Kemudian berpandangan bahwa dokter asing yang bertugas di RS Adam Malik adalah tenaga ahli yang diundang berdasarkan hubungan senior, bukan inisiatif Kemenkes.