Perang Israel-Iran Pengaruhi Wisata Dunia, Indonesia Perlu Antisipasi
- VIVA Jatim/Tir
Surabaya, VIVA Jatim – Konflik yang memanas antara Israel dan Iran berpotensi memberi dampak luas terhadap berbagai sektor global, termasuk industri pariwisata. Ketidakpastian geopolitik dinilai dapat menurunkan minat wisatawan untuk bepergian karena meningkatnya risiko keamanan dan biaya perjalanan.
Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya, Prita Ayu Kusumawardhany, mengatakan pemerintah dan pelaku usaha perlu menyiapkan sejumlah strategi agar sektor pariwisata tetap bertahan di tengah situasi global yang tidak menentu.
Menurutnya, pemerintah dapat mempromosikan Indonesia sebagai destinasi wisata yang aman dan stabil melalui kampanye digital guna membangun kembali kepercayaan wisatawan.
Selain itu, fokus pada wisatawan jarak dekat atau short-haul traveler serta memperkuat kerja sama dengan maskapai internasional juga menjadi langkah yang layak dipertimbangkan.
“Koordinasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia perlu dilakukan. Pemerintah juga dapat memberikan dukungan bagi agen perjalanan domestik, misalnya melalui subsidi tiket perjalanan dalam negeri agar wisatawan tertarik melakukan perjalanan,” ujarnya.
Untuk memastikan keamanan wisatawan, Prita juga merekomendasikan penerapan monitoring berbasis teknologi di destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan.
Menurutnya, sistem pemantauan tersebut dapat meningkatkan rasa aman wisatawan sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi wisata yang aman.
Salah satu destinasi yang dinilai dapat menerapkan sistem ini adalah Bali yang selama ini menjadi magnet wisatawan mancanegara.
Di sisi lain, pelaku usaha pariwisata disarankan menerapkan strategi dual market, yaitu tetap memantau kondisi pasar wisata internasional sambil memperkuat pasar domestik dan regional Asia.
Ia menyarankan porsi wisata domestik dan regional Asia dapat diperkuat hingga 60 hingga 70 persen untuk menjaga stabilitas arus kas bisnis pariwisata.
“Pelaku usaha juga harus terus memantau informasi dari media serta pembaruan dari maskapai penerbangan dan International Air Transport Association untuk mengevaluasi risiko dan keamanan penerbangan,” jelasnya.
Selain itu, pelaku industri pariwisata juga dianjurkan melakukan diversifikasi paket perjalanan domestik dan regional Asia untuk mengantisipasi fluktuasi kunjungan wisatawan internasional.
Langkah lain yang dapat dilakukan adalah memperkuat promosi digital dengan menonjolkan destinasi wisata yang aman serta menawarkan promo perjalanan yang fleksibel, seperti garansi pembatalan atau uang kembali.