Menko Pangan Sebut Program di Sektor Pangan Berhasil
- M. Lutfi Hermansyah
Jombang, VIVA Jatim-Menteri Koordinator (Menko) Pangan Zulkifli Hasan menyebut sektor pangan menjadi salah satu program yang dinilai berhasil. Ia mencontohkan perubahan kondisi impor beras dari 2024 ke 2025.
Menurut dia, Indonesia pada 2024 masih melakukan impor beras sekitar 4,5 juta ton. Namun, pada 2025 pemerintah tidak lagi melakukan impor beras dan justru mencatat surplus.
“2024 kita impornya 4,5 juta. 2025 kita sudah surplus, tidak impor lagi. Nah, itu masuk yang berhasil. Boleh ini kita syukuri,” katanya dalam Halaqoh Kebangsaan Ekonomi Bisnis Pesantren 2026 di Aula Universitas Darul Ulum (Undar), Jombang, Kamis, 27 Agustus 2026.
Selain beras, pemerintah juga menyoroti komoditas jagung. Perbaikan produksi pangan tersebut, kata Zulkifli, turut berdampak terhadap kesejahteraan petani.
Ia menyebut nilai tukar petani (NTP) meningkat dari sekitar 116 menjadi 127. Kenaikan tersebut dinilai menunjukkan adanya perbaikan kemampuan ekonomi petani, khususnya petani padi dan jagung.
“Nilai tukar petani dari 116 tahun 2026 menjadi 127. Jadi petani padi, petani jagung termasuk yang makmur,” ujarnya.
Zulkifli menjelaskan, pemerintah juga telah memangkas sejumlah regulasi yang dinilai menghambat sektor pertanian. Salah satunya berkaitan dengan distribusi pupuk.
Sebelumnya, menurut dia, terdapat sekitar 145 aturan yang harus dilalui dalam proses penyediaan pupuk. Pemerintah kemudian memangkas aturan tersebut menjadi hanya tiga regulasi.
Langkah itu disebut berdampak terhadap penyerapan pupuk. Pada 2024, penyerapan pupuk disebut berada di kisaran 6 juta ton, kemudian meningkat menjadi sekitar 9,5 juta ton pada 2025 atau naik sekitar 58 persen.
“Kita pupuk pangkas dari 145 aturan tinggal tiga. Dari tiga aturan itu tahun 2025 pupuk terserap 9,5 juta. Naik 58 persen. Pupuk naik, produksi naik. Produksi naik 8 persen,” jelasnya.