Patahan Surabaya-Waru Pernah Diteliti, Pakar ITS Ungkap Status Sebenarnya
- Rachmad Fahrizal Tito
Surabaya, VIVA Jatim-Informasi mengenai keberadaan patahan yang disebut melintasi Kota Surabaya tengah ramai di media sosial. Pakar geologi sekaligus dosen luar biasa Departemen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Ir Amien Widodo MSi, meminta masyarakat tidak panik menyikapi informasi yang belum terverifikasi secara ilmiah.
Isu tersebut mencuat setelah sebuah akun Instagram mengunggah video yang menyebut adanya patahan aktif baru di Surabaya. Video yang diunggah sekitar tujuh hari lalu itu telah ditonton 476 ribu kali, mendapat 15,1 ribu tanda suka, dan mengumpulkan 1.081 komentar.
Dalam unggahannya, akun tersebut menuliskan, “Sudah tahukah kalian, Surabaya memiliki patahan aktif baru? Ini daerah yang dilintasinya.”
Menanggapi kabar yang viral tersebut, Amien menjelaskan bahwa keberadaan patahan di wilayah Surabaya bukan informasi yang sepenuhnya baru. Penelitian mengenai struktur patahan di Jawa Timur telah dilakukan ITS bersama Pusat Survei Geologi-Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI dan dipublikasikan pada 2024.
“Hasil penelitian tersebut menunjukkan terdapat dua patahan yaitu patahan Surabaya dan patahan Waru,” ungkap Amien.
Amien mengatakan kedua patahan tersebut memiliki potensi aktif dan pernah mengalami pergerakan. Hasil penelitian itu juga sejalan dengan peta patahan di Indonesia yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) pada 2024.
Namun, ia menekankan pentingnya membedakan antara keberadaan patahan dengan statusnya sebagai patahan aktif.
“Patahan yang melewati Surabaya, Sidoarjo, hingga Bangkalan memang ada, tetapi belum terverifikasi aktif,” paparnya.
Menurut Amien, sebuah patahan tidak dapat langsung disebut aktif hanya karena keberadaannya teridentifikasi dalam suatu wilayah. Status aktif membutuhkan bukti dan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah patahan tersebut masih mengalami pergerakan.
“Kita harus memahami bahwa ada patahan yang aktif dan tidak aktif. Untuk menyebutnya sebagai patahan aktif, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut,” terangnya.
Karena itu, Amien mengimbau masyarakat lebih kritis terhadap informasi kebencanaan yang beredar melalui media sosial. Informasi yang belum melalui verifikasi ilmiah sebaiknya tidak langsung dipercaya maupun disebarluaskan dengan narasi yang berpotensi menimbulkan kepanikan.