BHS Keluhkan Antrean Panjang di Bandara Juanda, Kritik Kemenhub

Bambang Haryo Soekartono mengantre di Bandara Juanda.
Bambang Haryo Soekartono mengantre di Bandara Juanda.
Sumber :
  • Dok pribadi Bambang Haryo Soekartono

Jatim – Ketua Harian Masyarakat transportasi Indonesia (MTI) Jawa Timur Bambang Haryo Soekartono (BHS) mengaku heran dan kecewa ketika mendarat di Bandara Internasional Juanda Surabaya di Kabupaten Sidoarjo setelah menjalani penerbangan dari Kuala Lumpur beberapa waktu lalu. Dia kecewa setelah harus antre lama saat menjalani setiap prosedur kedatangan.

“Saya melakukan prosedur kedatangan mulai dari pemeriksaan vaksin Booster di mana terjadi antrean yang cukup panjang dan lama, sekitar 20 menit, yang sebenarnya di beberapa bandara negara lain sudah tidak diberlakukan lagi karena bisa menggunakan sistem barcode seperti yang diterapkan di Bandara Soekarno Hatta,” kata BHS dalam keterangannya, Senin, 26 September 2022.

Tidak hanya saat menjalani vaksin Booster, anggota DPR RI periode 2014-2019 itu juga mengaku harus antre panjang di imigrasi, juga ketika menjalani pemeriksaan bea cukai setelah pengambilan barang sekitar 20 menit. “Di mana jalur bea cukai hijau tidak dipergunakan, semuanya ke jalur merah mengakibatkan antrean sangat panjang. Padahal saat itu hanya ada dua pesawat, yakni satu pesawat umrah dan satu pesawat kami,” ujar BHS.

Saat itu, BHS mengaku tak sendiri. Saat menjalani pemeriksaan di bea cukai dia mengaku melihat puluhan ibu-ibu yang terlihat kelelahan duduk di lantai dan tertidur. Mereka berasal dari Blitar yang baru datang dari perjalanan umrah. BHS juga ikut duduk di lantasi karena memang tidak ada kursi.

“Karena tidak adanya kursi di kedatangan internasional akhirnya mereka kelelahan cukup lama dan terpaksa duduk serta tiduran di terminal kedatangan tersebut, bahkan di terminal kedatangan tersebut tidak ada tenan makanan dan lain lain yang buka,” ujar peraih anggota DPR RI teriaspiratif tahun 2019 itu.  

“Saya sangat heran tamu Allah dikalahkan dengan tamu seorang menteri, Dirjen dan lain lain yang selalu mendapatkan fasilitas VIP. Rupanya mereka tidak sadar Allah SWT adalah yang menciptakan mereka,” keluh BHS.

Alumni ITS Surabaya itu lantas membandingkan pengalamannya di Bandara Juanda itu dengan bandara LCC saat tiba di bandara di Kota Kinabalu dan Sabah, Malaysia.  “Kondisi pelayanan kedatangan jauh berbeda, begitu banyak fasilitas kursi dan tenan yang melimpah, tersedia tempat para penumpang beristirahat saat menunggu penjemputan, dan lain-lain.“ kata BHS.

Dia juga mengeluhkan temperatur di gangway dan ruang menuju ke tempat pemeriksaan yang menurutnya sangat panas. “Ini semua merupakan tanggung jawab dari Kementerian Perhubungan karena tidak ada satu standarisasi pelayanan minimun dan kontrol yang sangat lemah. Padahal, terminal internasional merupakan etalase citra baik buruknya transportasi di Indonesia. Saya sangat prihatin dan sesalkan atas kejadian tersebut,” ujar BHS.

Seyogyanya, lanjut dia, Kemenhub harus dikelola oleh orang-orang yang kompeten, punya kapabilitas dan bisa mengkoordinasikan semua lembaga yang bekerja di lingkungan bandara atau di bawah Kemenhub. Di mana Kemenhub harus bisa mendudukkan sebagai leading sector untuk mengendalikan mereka supaya memberikan suatu pelayanan terbaik untuk masyarakat yang telah menggunakan transportasi publik,“ pungkas BHS.