Bangkrut Bangkit
- VIVA.co.id
Surabaya, VIVA Jatim – Ada banyak orang bangkrut. Tapi sedikit yang mampu bangkit. Mereka yang hanya bisa meratap setelah terpuruk adalah bangkrut sampai akar-akarnya. Sampai mentalnya. Mereka yang bangkit lagi hanya bangkrut secara finansial. Mentalnya selamat.
Bangkrut yang tak bangkit-bangkit jangan ditiru. Bila Anda bangkrut, contohlah bangkrutnya pria satu ini. Namanya B, orang Madura. Lulusan pondok pesantren di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur. Sampai lulus kuliah di bidang ilmu agama. Bukan ekonomi.
"Setelah menikah, saya enggak punya kerjaan pasti. Seraburan. Pernah jadi kuli bangunan juga," kata B saat mengobrol bareng VIVA Jatim awal September lalu.
Ia kemudian membuka usaha gula aren. Di Madura disebut Gula Jawa. Gula berwarna cokelat yang diolah dari nira, cairan manis yang disadap dari tandan pohon aren atau siwalan.
Di Madura, terutama di Sumenep, pohon siwalan banyak tersedia. Di desa-desa tertentu pohon siwalan jadi sumber penghasilan utama warga. Niranya diolah jadi gula, buah siwalannya dijual untuk es buah, daunnya dianyam jadi tikar.
B melihat itu sebagai peluang bisnis. Ia kemudian mencari pabrik-pabrik yang membutuhkan gula aren. Ketemulah pabrik kecap. Tapi bukan pabriknya langsung, melainkan pihak ketiga. Setelah itu, B mengepul gula dari para petani sampai terkumpul berton-ton, lalu dipasok ke pabrik kecap melalui relasi pihak ketiganya.
Sekali berbisnis gula, B langsung memulai dengan modal besar, setidaknya untuk ukuran desa. Mula-mula bisnisnya berjalan lancar. Untungnya juga gede. Tapi itu sebentar. Ia terjepit setelah pihak ketiga yang ia percayai mbalelo. Duit gula yang B kirim tak dibayar. Padahal, ia juga harus membayar para petani yang gula-gula mereka dikepul.
B langsung bangkrut. Bisnisnya berbuah utang ratusan juta rupiah. Para petani yang gulanya dikepul kerap menagih. B tambah stres. Mentalnya pun terpuruk. "Saya mengurung diri di kamar selama setahun," cerita dia.
Selama itu, B tak pernah keluar dari kamar. Makan pun dikirim oleh keluarganya. Ia hanya keluar untuk buang hajat dan mandi. Setelah itu masuk ke dalam kamar lagi. Ia seolah takut dengan dunia luar. Ketemu orang bagai diteror.