Modal Ghirah 3 Wisudawan Inspiratif Al Fithrah
- Humas Institut Al Fithrah Surabaya.
Surabaya, VIVA Jatim – Insititut Al Fithrah (IAF) Surabaya menggelar acara Wisuda XIV pada Sabtu, 25 Oktober 2025. Sebanyak 168 sarjana resmi dikukuhkan dalam acara tersebut. Tiga di antaranya ialah Shiela Almaulidiya, Moch. Farhan Romadhon, dan Maulana Asrori. Di tengah keterbatasan, ketiganya lulus memuaskan. Hanya dengan modal ghirah yang membara.
Shiela Almaulidiya kuliah di IAF dan mengambil program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Sejak awal kuliah, Shiela hidup dalam keterbatasan ekonomi. Namun, latar belakang keluarga sederhana tak menyurutkan niatnya menempuh pendidikan tinggi.
Studinya terbantu setelah mendapatkan program beasiswa KIP Kuliah. Semangatnya kian membara. “Saya sadar beasiswa ini adalah amanah. Saya harus menjaga kepercayaan itu dengan prestasi,” kata Shiela usai wisuda.
Shiela berjuang keras dan berhasil mempertahankan IPK-nya agar tidak kehilangan beasiswa. Ia bersyukur menjalani itu sehingga mampu menyelesaikan kuliah tanpa membebani keluarga. Tak hanya prestasi akademik, ia juga menggembleng dirinya dengan aktif di organisasi dan rajin mengikuti kegiatan diskusi, di dalam maupun luar kelas.
Di tengah keterbatasan, Shiela justru belajar arti syukur dan ketekunan. Setiap capaian, katanya, adalah hasil dari doa orang tua dan bimbingan para dosen. Hasilnya, ia dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Wisuda XIV IAF Surabaya.
Wisudawan inspiratif IAF lainnya ialah Moch. Farhan Romadhon, sarjana Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Sama dengan Shiela, Farhan juga melatih diri untuk mandiri selama kuliah agar tak membebani keluarganya. Sambil kuliah, hari-hari Farhan lalui sambil bekerja sebagai guru les privat.
Sejak pagi hingga malam, ia mengajar sepuluh anak SD dari rumah ke rumah. Masing-masing murid durasinya satu jam. Siswa waktunya lalu dipakai untuk kuliah. “Saya tidak punya waktu luang. Tapi setiap kali murid saya paham pelajaran, rasa lelah itu hilang,” cerita Farhan.
Rutinitas padat membuatnya belajar arti disiplin dan manajemen waktu. Di sela-sela istirahat, Farhan menulis tugas kuliah. Malam hari, selepas mengajar, ia melanjutkan membaca literatur atau menulis bab skripsi. Tak jarang, rasa kantuk datang di tengah perjuangan.