Kiai Faizi Bicara Kopi

Kiai Mamak dan Kiai Faizi di Kafe 86 Gapura, Sumenep.
Sumber :
  • Nur Faishal/Viva Jatim

Yang paling mahal namanya kopi Panama Geisha. Harganya bisa mencapai Rp100 juta per kilogram. “Saya membayangkan mencicipi satu gelas terus tumpah. Langsung tahlilan satu minggu,” canda Kiai Faizi.

img_title Ada Robekan pada Labrum Bahu Kanan, Jordy Wehrmann Harus Jalani Pemulihan Selama Tiga Bulan

Penikmat kopi antara satu negara dengan negara lainnya juga berbeda-beda. Baik caranya maupun tujuannya. Hal itu juga berpengaruh pada cara produsen mengolah minuman kopi, juga pemasarannya. “Bedanya orang-orang Eropa [minum kopi] dengan kita [di Indonesia]  di niatnya,” kata Kiai Faizi.

Di Indonesia, papar dia, minum kopi dimaksudkan agar lebih kuat dan semangat dalam bekerja. “Karena tubuh itu konon butuh kafein dalam jumlah tertentu. Sehingga kalau sudah minum kopi, asal tidak ada gulanya, akhirnya mereka punya produktivitas yang lebih baik,” ujarnya.

img_title Madura United Rencanakan Gelar Pemusatan Latihan di Yogyakarta

Berbeda dengan orang Amerika. Orang-orang Negeri Paman Sam, menurut Kiai Faizi, tidak suka dengan rasa pahit. Produsen menangkap itu lalu dibuatlah kopi dengan komposisi air yang lebih banyak sehingga lebih encer. Rasa pahitnya tidak kentara. “Disebut dengan Americano. Itu sebetulnya buat nipu orang Amerika,” tutur penyuka mobil tua Colt T120 itu.

Americano Di Indonesia jadi tren. Selain itu, kopi yang juga banyak disukai orang Indonesia, terutama di perkotaan, di antaranya kopi Latte. “Espresso dikasih susu menjadi [kopi] Latte. Kalau hilang kopinya tinggal Latte (susu)-nya,” canda Kiai Faizi.

img_title Apresiasi Kapal Penolong, INSA Minta Respons Penyelamatan Diperkuat Usai Tragedi Mutiara Sentosa II

Di dunia Islam, lanjut dia, kopi juga memiliki sejarah panjang, terutama di kalangan kaum sufi. Ada banyak literatur soal itu. di antaranya kitab Qahwatul Bunny yang menjelaskan asal usul kopi. Ada juga kitab Adaabul Qahwah yang menjelaskan tentang tata cara meminum kopi. “[Kitab Adaabul Qahwah] Itu adalah puisi 60 bait, baharnya bahar rojaz.”

Di dalam kitab Tadzkirun Naas karya Al-Habib Ahmad bin Hasan Attas, dijelaskan tentang bagaimana cara kaum sufi dahulu meminum kopi agar kuat dalam berzikir dan belajar. Bahkan, saking sakralnya tradisi meminum kopi, ulama sufi saat itu mengirimkan faatihah dulu sebelum meneguk kopi.

“Itu cara minum kopi dengan cara mengirim Fatihah. Saya juga pakai cara itu setiap minum kopi. Biar apa? agar kelezatannya tidak hanya di enam senti (dari mulut sampai tenggorokan) saja, tapi juga di dalam hati,” kata Kiai Faizi.