Kiai Faizi Bicara Kopi

Kiai Mamak dan Kiai Faizi di Kafe 86 Gapura, Sumenep.
Sumber :
  • Nur Faishal/Viva Jatim

Sumenep, VIVA Jatim – Kopi punya sejarah panjang. Mulanya biji-bijian yang dikunyah hingga pada perkembangannya diolah menjadi minuman. Sekarang terus berkembang hingga muncullah beragam varian. Lebih dari sekadar minuman, kopi juga berbaur dengan cara hidup orang-orang. Menembus batas-batas sosial. Pun di dunia Islam.

img_title Kopi Keliling, Cara Satbinmas Serap Keluhan Masalah Keamanan Warga Gresik

“Pertama kali saya mulai menyukai kopi original mulai tahun 2012. Jadi, saya kira, semua kopi di dunia ini rasanya sama dengan kopi-kopi di rumah. Celleng (hitam), potton (gosong), bettheng (gelap),” kata Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Sabajarin (Al-Furqan) Guluk-Guluk, Sumenep, Kiai M Faizi saat ngobrol santai di peluncuran Kafe 86 di Gapura, Sumenep, beberapa waktu lalu.

Mulanya, lanjut kiai muda yang juga penyair itu, seorang teman mengirimi kopi kemasan racikan sendiri yang rasanya enak. Ada asamnya, ada pekatnya, dan ada semacam ramuannya. Pengalaman mencecapi kopi tersebut diulas Kiai Faizi di Facebook dan Blog. “Setelah tahu gitu, dia makin sering ngirim kopi. Jadi selama 12 tahun saya tidak pernah beli kopi.”  

img_title Ada Tempat Nongkrong Baru Buat Anak Muda Gresik Penikmat Kopi, Ini Lokasinya

Kiai Faizi mengaku sudah pernah mencicipi hampir semua kopi di dunia. “Mulai dari kopi Brasil, Simbabwe, Tanzania, Lebanon, terus Turki. Saya kira kopi-kopi itu ganas semua. Setelah makin hari ternyata kopi yang paling enak itu, ya, kopi Indonesia,” ujarnya.

Menurut Kiai Faizi, kopi adalah minuman yang menarik untuk diamati dan dipelajari. Baginya, kopi adalah minuman yang sensitif. “Kalau Anda pergi ke Bali, misalnya perjalanan ke Bedugul, itu ada daerah Banyuatis, di situ ada kopi yang kalau Anda minum rasanya seperti jeruk. Kenapa? Karena di situ banyak pohon jeruknya,” tandasnya.

img_title Ditpolairud Polda Jatim Kerahkan 4 Kapal Cari Korban KM Virgo di Perairan Sumenep

Di Bandung Selatan, tepatnya di sekitar Papandayan, ada kopi yang rasanya seperti rasa buah belimbing. Itu terjadi karena di sekitarnya ada perkebunan belimbing. Contoh lainnya di Kolombia, ada kopi yang rasanya ada rasa-rasa semangkanya. “[Kopi] Sangria namanya,” ucap Kiai Faizi.

Ada juga kopi yang sifatnya spesifik dan memiliki kesan ekslusif. Seperti Blue Mountain yang dibudidayakan di kawasan Gunung Ijen. Harganya mahal. Di Ethiopia yang konon diketahui sebagai tempat pertama kali ditemukan kopi, banyak varietas kopi dengan cita rasa tinggi di dunia karenanya harganya mahal.

Yang paling mahal namanya kopi Panama Geisha. Harganya bisa mencapai Rp100 juta per kilogram. “Saya membayangkan mencicipi satu gelas terus tumpah. Langsung tahlilan satu minggu,” canda Kiai Faizi.

Penikmat kopi antara satu negara dengan negara lainnya juga berbeda-beda. Baik caranya maupun tujuannya. Hal itu juga berpengaruh pada cara produsen mengolah minuman kopi, juga pemasarannya. “Bedanya orang-orang Eropa [minum kopi] dengan kita [di Indonesia]  di niatnya,” kata Kiai Faizi.

Di Indonesia, papar dia, minum kopi dimaksudkan agar lebih kuat dan semangat dalam bekerja. “Karena tubuh itu konon butuh kafein dalam jumlah tertentu. Sehingga kalau sudah minum kopi, asal tidak ada gulanya, akhirnya mereka punya produktivitas yang lebih baik,” ujarnya.

Berbeda dengan orang Amerika. Orang-orang Negeri Paman Sam, menurut Kiai Faizi, tidak suka dengan rasa pahit. Produsen menangkap itu lalu dibuatlah kopi dengan komposisi air yang lebih banyak sehingga lebih encer. Rasa pahitnya tidak kentara. “Disebut dengan Americano. Itu sebetulnya buat nipu orang Amerika,” tutur penyuka mobil tua Colt T120 itu.

Americano Di Indonesia jadi tren. Selain itu, kopi yang juga banyak disukai orang Indonesia, terutama di perkotaan, di antaranya kopi Latte. “Espresso dikasih susu menjadi [kopi] Latte. Kalau hilang kopinya tinggal Latte (susu)-nya,” canda Kiai Faizi.

Di dunia Islam, lanjut dia, kopi juga memiliki sejarah panjang, terutama di kalangan kaum sufi. Ada banyak literatur soal itu. di antaranya kitab Qahwatul Bunny yang menjelaskan asal usul kopi. Ada juga kitab Adaabul Qahwah yang menjelaskan tentang tata cara meminum kopi. “[Kitab Adaabul Qahwah] Itu adalah puisi 60 bait, baharnya bahar rojaz.”

Di dalam kitab Tadzkirun Naas karya Al-Habib Ahmad bin Hasan Attas, dijelaskan tentang bagaimana cara kaum sufi dahulu meminum kopi agar kuat dalam berzikir dan belajar. Bahkan, saking sakralnya tradisi meminum kopi, ulama sufi saat itu mengirimkan faatihah dulu sebelum meneguk kopi.

“Itu cara minum kopi dengan cara mengirim Fatihah. Saya juga pakai cara itu setiap minum kopi. Biar apa? agar kelezatannya tidak hanya di enam senti (dari mulut sampai tenggorokan) saja, tapi juga di dalam hati,” kata Kiai Faizi.