Penalti So
- VIVA.co.id
“Kalau memang dibilang menunggak, kenapa uang yang saya tabung tetap terkuras? Padahal saya hanya menabung, tidak pernah menarik [mengambil uang],” ujar So bersungut-sungut.
Petugas bank akhirnya terdiam. Tak mau kehilangan muka, jurus pamungkas dikeluarkan petugas bank: tunggu arahan pimpinan. So tidak mau. Ia meminta saat itu juga bertemu pimpinan bank dan ingin bicara sendiri. Petugas bilang pimpinannya masih dinas luar. Akhirnya So pulang dan hanya bisa menunggu.
Akhirnya bagaimana? “Beres. Sekarang sudah lunas,” ucapnya.
Tahun-tahun berikutnya ia meminjam uang lagi ke bank dengan nilai yang sama dan angka angsuran yang juga sama, sekitar Rp1,5 juta per bulan. Terpaksa. Sama dengan sebelumnya, ia berusaha keras untuk tidak menunggak. Ketika cicilan tersisa 10 kali, So mendapatkan arisan. Dengan uang arisan itu, ia berniat melunasi. Ia pun mendatangi bank dan menyampaikan niat baiknya itu.
Sesampai di bank, ia menerima penjelasan dari petugas bank jika dilunasi maka akan terkena penalti 5 kali angsuran. Itu artinya, So harus membayar lebih Rp15 juta plus penalti 5 kali angsuran. Nah, saat itulah kegarangannya muncul. Ia memarahi petugas itu. Ia merasa pihak bank menghambat niat baik dirinya untuk melunasi kredit.
So heran, kenapa penalti kredit di bank tidak sama dengan penalti di sepak bola. Di permainan bola sepak, penalti artinya hukuman atau sanksi akibat pelanggaran yang dilakukan oleh pemain di kotak dekat gawang. Di bank, penalti justru diberikan kepada debitur yang punya niat baik untuk membayar lunas agar tidak terjebak pelanggaran kredit macet.
Petugas bank kukuh pada aturan yang dibuat kantornya. So juga begitu. Dia tetap memasang sikap garang. Tidak ada solusi lalu So pulang. Disulut emosi, dia merencanakan usil ke bank. Ia tidak membayar cicilannya. Tapi uang pelunasannya tetap ia siapkan. Tidak dipakai. Setelah dua bulan, telepon dari petugas bank berdering setiap hari, bahkan setiap jam. So cuek. Tidak diangkat, malah kadang di-reject.
Lama-lama So tak tahan juga. Ia akhirnya mengangkat telepon petugas bank. Tapi langsung marah-marah. Petugas bank balas marah, bahkan mengancam akan menyita rumahnya yang sertifikatnya dijadikan agunan. So tambah marah-marah. Ia malah menantang petugas agar segera menyita rumahnya.