Membentuk Karakter Bangsa Lewat Nilai-nilai Budaya Wayang Kulit

Pentas Budaya Wayang Kulit
Sumber :
  • Nur Faishal/Viva Jatim

Surabaya, VIVA Jatim – Pementasan wayang kulit dan aneka kesenian lokal lain selama kurun Agustus 2023, menjadi pemandangan jamak ditemukan di banyak daerah dalam memeriahkan HUT ke-78 RI. Pertunjukan yang mengangkat kearifan lokal semacam ini tentu bagus.

img_title Belasan Stan Pedagang di Lamongan Roboh Diterjang Angin Kencang

Sebab selain menghibur dan menjadi ekspresi suka-cita (syukur), secara tidak langsung menjadi sumber inspirasi bagi pembangunan karakter anak bangsa.

Pementasan kesenian wayang kulit, misalnya. Seni budaya tradisi yang sudah diwariskan sejak Nusantara masih di era kerajaan ini dinilai menjadi salah satu referensi dalam pengembanga karakter anak bangsa.

img_title Islam Bukan Masa Lalu: Saat Warisan Peradaban Bertemu Kecerdasan Digital Metaverse

“Dengan menjadikan budaya sebagai referensi pembangunan karakter, maka budaya tersebut akan selalu diingat dan dilestarikan dari waktu ke waktu,” kata tokoh budayawan nasional, Sudarko Prawiroyudo di Surabaya, Sabtu, 2 September 2023.

Ia lalu menggambarkan dialog yang terbangun dalam pementasan wayang kulit kerap menyuratkan pesan penting bagi pengunjung/penonton/pemirsa yang mengikuti jalannya pementasan. Salah satu contoh cerita pewayangan berjudul 'Arjuna Wiwaha'. Lakon bisa menjadi referensi dalam menjelaskan pentingnya figur yang mumpuni dan layak dijadikan anutan untuk kemudian dipersiapkan menjadi pemimpin bangsa.

img_title Mencicipi Ragam Kopi Nusantara Lewat Cupping Lawson di Surabaya

“Setiap pergelaran wayang kulit selalu menyentuh lima wujud kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Lima wujud tersebut adalah ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan-keamanan nasional,” terang Sudarko.

Menurut Sudarko, tantangan Indonesia dalam melestarikan budaya tidaklah mudah. Banyaknya kebudayaan di Indonesia membuka kemungkinan bagi negara lain untuk mengakuinya, terutama negara tetangga. 

Oleh sebab itu, generasi muda perlu ikut serta dalam usaha menjaga keamanan budaya dengan mempraktikkan cara berbahasa, menjadi pelaku seni budaya, hingga menjadi penikmat budaya Nusantara sehingga budaya tidak mudah diambil atau diakui oleh negara lain.

Globalisasi yang terjadi saat ini harus direspons dengan memperkuat benteng kebudayaan berciri ke-Indonesiaan. Rasa bangga terhadap budaya bangsa disertai semangat nasionalisme yang tinggi untuk mengutamakan kepentingan bangsa dan negara.

“Modernisme merupakan keniscayaan yang tak bisa ditolak di tengah dinamika zaman. Namun jati diri bangsa Indonesia sebagai manusia berbudaya harus tetap ditanamkan di benak generasi muda. Artinya, ke manapun anak-anak muda ini pergi dan berkarya, mereka tetap menjaga warisan luhur nilai-nilai budaya Nusantara,” tandasnya.

Halaman Selanjutnya
img_title