Seniman Cilik Gresik Tuangkan Kisah Bullying di Pameran Catatan Visual

Annisa Nismara seniman cilik Gresik dalam pameran yang digelar Sanggar DAUN di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya selama 5-10 September 2026
Sumber :
  • VIVA Jatim

Surabaya, VIVA Jatim – Isu bullying dan kekerasan terhadap anak menjadi salah satu tema yang diangkat seniman cilik asal Gresik, Annisa Nismara, dalam pameran tunggal perdananya di Surabaya. Melalui 15 lukisan, anak berusia 11 tahun itu menuangkan berbagai pengalaman, perasaan, serta cara pandangnya terhadap lingkungan di sekitarnya.

img_title Kecelakaan di Metatu Gresik, Motor Diduga Oleng Tabrak Mobil, Dua Orang Tewas

Pameran bertajuk Catatan Visual tersebut digelar Sanggar DAUN di Galeri Merah Putih, kompleks Balai Pemuda Surabaya, mulai 5 hingga 10 September 2026. Pameran ini menampilkan 15 karya Annisa yang dibuat sepanjang 2024 hingga 2026.

Sejumlah karya secara khusus merekam isu yang dekat dengan kehidupan anak, di antaranya Catatan Bullying dan Catatan Child Abuse.

img_title Bangunan Bengkel Semi Permanen di Manyar Gresik Terbakar, Mobil dan Motor Ikut Hangus

Dalam karya Catatan Bullying, Annisa menggunakan dominasi warna merah dengan sosok hitam yang terlihat membungkuk dan memeluk dirinya sendiri. Lukisan tersebut menggambarkan rasa takut, tertekan, dan kebutuhan seorang anak untuk didengar.

Sementara Catatan Child Abuse menggunakan palet hitam dan putih. Karya itu menampilkan sosok kecil dari belakang dengan kaki berukuran besar menggantung di sudut kanvas.

img_title Kecelakaan Motor Tabrak Mobil di Metatu Gresik, 2 Orang Tewas

Selain dua karya tersebut, Annisa juga menampilkan Jantung Hati, yang menggambarkan sosok tanpa wajah dengan jantung merah besar di bagian punggung. Ada pula Catatan Harian #3, sebuah karya abstrak berukuran besar yang merekam pergulatan emosi melalui lapisan warna biru gelap, abu-abu, dan tetesan merah.

Kurator pameran sekaligus pendiri Sanggar DAUN, Arik S. Wartono mengatakan karya-karya Annisa tidak semata-mata berbicara tentang teknik melukis. Menurutnya, kekuatan karya seniman cilik tersebut justru terletak pada keberaniannya mencatat dan mengungkapkan apa yang dirasakan.

"Annisa tidak menawarkan solusi. Ia hanya mencatat. Dan dari 15 catatan itu, kita diminta melakukan tiga hal: mendengar, bertanggung jawab, dan menghormati. Mendengar gambar anak. Bertanggung jawab menciptakan ruang aman. Menghormati bahwa anak punya cara sendiri untuk memproses dunia," terangnya, Sabtu, 5 September 2026 malam.

Menurut Arik, Annisa melukis bukan karena telah sepenuhnya memahami persoalan yang dihadapinya, tetapi sebagai cara untuk memahami dunia.

"Ia melukis bukan setelah memahami. Ia melukis agar ia bisa memahami. Karena itu setiap karya terasa masih basah. Masih hangat, seolah baru selesai lima menit yang lalu," ujarnya.

Halaman Selanjutnya
img_title