Airlangga Forum Apresiasi Pasal RUU KUHAP, Ingatkan Prinsip Diferensiasi Fungsional

Airlangga Forum
Sumber :
  • Istimewa

Surabaya, VIVA Jatim-Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya kembali menggelar Airlangga Forum dengan membedah Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

img_title Heboh Gaji Dosen Non ASN Lulusan Luar Negeri Rp2,6 Juta, Unair Buka Suara

Acara ini dipandu oleh Wakil Direktur III Pascasarjana UNAIR dan co-host Ilham Dianta dari Radio Persada Blitar.

Dalam forum tersebut narasumber mengapresiasi beberapa revisi RUU KUHAP. Antara lain, terkait pencegahan praktek kekerasan dalam proses penegakkan hukum, pengembangan mekanisme restorative justice (RJ), hingga perlindungan kelompok rentan.

img_title Kejari Tuban Akui Dua Pejabat Melanggar, Kajari dan Kasi Pidum Dicopot

Namun mereka juga menyoroti keberlanjutan penerapan diferensiasi fungsional antar institusi penegakkan hukum di Indonesia. Dalam forum tersebut, mereka berpendapat penguatan hukum pidana perlu dijalankan sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Penguatan ini tetap mengacu pada ketentuan dalam UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Dalam konteks RUU KUHAP, perlu dilakukan harmonisasi dengan UU sektoral seperti UU Kepolisian agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan.

img_title Usai Heboh Pengeledahan Rumah Kajari Tuban, Supardi Bersama Tiga Stafnya Dikabarkan Menghilang?

Dekan Fakultas Hukum Universitas Nasional, Prof.Basuki Rekso Wibisono menyoroti adanya dinamika tarik menarik kewenangan antara penyidik dan penuntut umum yang memerlukan pengawasan ketat dari parlemen.

"Perlu kita garis bawahi revisi RUU KUHAP harus ada harmonisasi dengan UU sektoral seperti UU Kepolisian agar tidak ada tumpang tindih," jelasnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNAIR, Prof. Bagong Suyanto, mengatakan tentang pentingnya kontrol terhadap aparat penegak hukum, baik dari sisi sistem maupun moralitas personal.

Ia menyoroti sejauh mana RUU KUHAP telah mengatur mekanisme sanksi terhadap pelanggaran etika oleh aparatur, serta siapa yang bertanggung jawab.

"Ini akan mampu menjamin integritas dan harus mampu menjaga agar kekuasaan tidak disalahgunakan. Penyidik bisa amanah dalam pelaksanaan tugas-tugas penegakan hukum," katanya.

Dosen Ilmu Hukum Fakultas Hukum Unair, Prof. Sri Winarsi melihat ada beberapa pasal dalam revisi RUU KUHAP yang menunjukkan pembagian tugas yang jelas dan RUU Penyidik serta penuntut umum.

"Diferensiasi fungsional ini penting untuk menghindari tumpang tindih kewenangan. Dalam RUU KUHAP pasal 6, 8, 13,42, dan 46, yang menunjukkan koordinasi profesional antara konflik kewenangan dan mendorong efektivitas serta efisiensi dalam proses penegakan hukum," katanya.