Ikon Jawa Timur Terbakar, Jarnas 98 Kutuk Aksi Pembakaran Grahadi
- VIVA Jatim/Toriq
Surabaya, VIVA Jatim – Jaringan Nasional (Jarnas 98) Jawa Timur menyampaikan penyesalan mendalam atas aksi anarkis yang terjadi di sejumlah titik di Jawa Timur, yang puncaknya berujung pada insiden pembakaran Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu 30 Agustus 2025 malam.
"Kami menyayangkan adanya aksi tersebut. Grahadi itu cagar budaya dan simbol kebanggaan Jawa Timur. Kami menyayangkan adanya pembakaran tersebut," ujar Ketua Jarnas 98 Jatim, Indra Agus Pradiwiharno.
Indra menegaskan bahwa pihaknya memahami adanya aspirasi yang disampaikan para peserta aksi. Namun, ia menilai pembakaran Gedung Grahadi tidak bisa dibenarkan dan justru mencederai perjuangan masyarakat dalam menyuarakan tuntutannya.
"Jawa Timur sudah adem ayem. Investasi dan perekonomian baik dan meningkat. Jangan sampai gara-gara aksi anarkis tersebut menodai Jawa Timur. Ayo jaga Jawa Timur rek," tegas alumni Untag Surabaya itu.
Lebih lanjut, Indra menjelaskan bahwa tindakan pembakaran bukan hanya bentuk perlawanan, melainkan sudah mengarah pada perusakan aset negara. Apalagi Gedung Negara Grahadi memiliki nilai sejarah tinggi sebagai cagar budaya yang melekat dengan identitas bangsa dan daerah.
"Kami mengecam atas aksi tersebut dan mendesak pihak berwajib untuk mengusut tuntas aksi pembakaran bangunan bersejarah tersebut," tambahnya.
Sebagaimana diketahui, Gedung Negara Grahadi atau rumah dinas Gubernur Jatim yang terletak di Jalan Raya Gubernur Suryo, Surabaya, menjadi sasaran amukan massa pada Sabtu malam. Api berkobar hebat terutama di bagian barat kompleks Grahadi.
Salah satu ruangan yang terdampak parah adalah press room atau ruangan khusus wartawan. Bukan hanya terbakar, ruangan tersebut juga menjadi sasaran penjarahan dan perusakan. Sejumlah komputer di dalamnya diambil oleh sekelompok orang, lalu dirusak.
Peristiwa ini menambah daftar kerusakan akibat aksi massa yang berujung ricuh. Hingga kini, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan dan pengamanan di lokasi kejadian. Gedung Grahadi sendiri selama ini bukan hanya berfungsi sebagai rumah dinas gubernur, melainkan juga menjadi ikon sejarah sekaligus pusat kegiatan kenegaraan di Jatim.