Dinsos Jatim Dirikan Dapur Umum di Post Mortem RS Bhayangkara Surabaya

Kepala Dinas Sosial Jawa Timur, Restu Novi Widiani
Sumber :
  • VIVA Jatim/Mokhamad Dofir

Surabaya, VIVA Jatim – Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jawa Timur mendirikan dapur umum di area post mortem RS Bhayangkara Surabaya. Dapur umum ini ditujukan untuk mendampingi keluarga korban ambruknya Musalla Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran Sidoarjo yang menunggu proses identifikasi jenazah.

img_title Event di Jawa Timur Terbanyak, Sedot 30 Persen Wisatawan secara Nasional

Kepala Dinsos Jatim, Restu Novi Widiani menjelaskan, keberadaan dapur umum ini sesuai arahan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

“Kami sudah siapkan tenda untuk wali santri, tenda pers, dan dapur umum. Namun khusus di RS Bhayangkara ini lebih berupa dapur air, jadi sajian cepat saji dan minuman hangat. Tujuannya agar keluarga dan petugas yang menunggu tidak merasa sendiri,” terangnya, Jumat, 3 Oktober 2025.

img_title Khofifah Pastikan Pasokan Biosolar di Jatim Lancar dan Aman

Selain logistik, Dinsos Jatim juga menurunkan tenaga pekerja sosial dari tim Jatim Social Care untuk memberikan dukungan psikososial. Nantinya mereka dikatakannya, bertugas mendampingi keluarga korban bila membutuhkan.

"Jadi bukan hanya soal makanan, tetapi juga kenyamanan dan ketenangan mereka,” tambah Restu.

img_title Selaras Rais Aam, Khofifah Ungkap Modal Utama Menjaga Marwah NU di Era Kini

Restu menegaskan, posko dapur umum tetap beroperasi penuh di dua lokasi, yaitu di Pondok Pesantren Al Khoziny sebagai lokasi kejadian dan RS Bhayangkara.

Jika di lokasi ponpes dapur umum memasak penuh hingga 4.500 porsi setiap hari, di RS Bhayangkara konsepnya lebih sederhana namun tetap memenuhi kebutuhan dasar keluarga korban maupun petugas gabungan.

Dinsos Jatim juga berkoordinasi dengan Kementerian Sosial RI, BPBD, hingga pihak rumah sakit. Partisipasi masyarakat pun ikut mengalir, meski pemerintah provinsi tidak secara khusus membuka donasi.

Ia memastikan, layanan dapur umum, dukungan logistik, serta tenda keluarga akan berlangsung 24 jam hingga seluruh proses evakuasi dan identifikasi korban selesai.

“Banyak masyarakat, alumni santri, hingga perusahaan yang datang langsung memberikan bantuan. Bahkan ada yang ikut terlibat memasak bersama di posko pertama. Ini wujud kepedulian yang luar biasa,” pungkasnya.