Dipecat Kak Pem
- Istimewa
"Tapi tetap ngopi-ngopi lo, Kak," tambah saya di pesan.
Kak Pem mengiyakan. Ia bilang masih banyak ruang bisa dijadikan alasan untuk silaturrahim. Tak hanya di NU Online Jatim atau Aula. Karena itu, beberapa hari kemudian saya tetap ngopi bareng Kak Pem di kantin PWNU. Ia juga saya mintai nasihat ketika tempat saya bekerja di VIVA.co.id berencana membuat subdomain VIVA Jatim dan saya ditawari untuk mengelola.
"Itu tantangan sekaligus peluang. Ambil saja," kata Kak Pem.
Dan Kak Pem tak gengsi menerima tawaran saya menjadi editor di VIVA Jatim kendati saya sebagai managernya. Saya pikir dia menerima pinangan itu untuk menyemangati saya yang pemula dan baru belajar mengelola media. Saya meminta dia mengisi konten keislaman. Bukan karena butuh kerja dan tambahan penghasilan.
Di VIVA Jatim, Kak Pem termasuk assabiqunal awwalun. Namanya tercantum sebagai editor generasi pertama di susunan redaksi. Saat itu, satu-dua naskah keislaman ia tulis dan ditayangkan di rubrik Cangkrukan, ruang untuk tulisan ringan bertema sembarang, entah berita atau essai.
Belakangan, Kak Pem tak menulis lagi di VIVA Jatim dan saya memahami apa alasannya: ia mesti fokus di NU Online Jatim dan Aula. Tapi namanya tetap tercantum di susunan redaksi. Saya tak berniat mencopot namanya karena saya berharap Kak Pem kembali menjadi bagian dari VIVA Jatim ketika ia sudah tidak lagi menjadi pimpinan di medianya NU Jatim.
Harapan itu saya sampaikan berulang-ulang setiap kali ada kesempatan ngopi bareng Kak Pem. Terakhir saya mengatakan lagi soal itu sekitar enam bulan lalu di rumahnya di Jombang, saat saya menyambangi setelah menerima kabar ia diserang penyakit saraf kejepit. Ia mengeluh sakit punggung kalau duduk terlalu lama. Tapi tetap menulis meski tak sesering sebelumnya.
"Sekarang sampean banyak waktu luang di rumah, Kak Pem. Biar tidak bosan, sekali-kali tetap nulis konten keislaman di VIVA Jatim," pinta saya dan dibalas senyum khasnya.
Beberapa bulan kemudian, saya mendengar kabar Kak Pem kembali masuk rumah sakit setelah menjalani terapi di pengobatan tradisional di Pare, Kediri, Ramadan lalu. Kondisi kesehatannya makin buruk hingga harus menjalani operasi di RSAL Surabaya. Saraf kejepitnya mengganggu fungsi organ vital dan lama-lama terjadi komplikasi.