Adung Takut Istri

Ilustrasi konsep mental.
Sumber :
  • Rochard Drury/Getty Images

Adung Pusing tujuh keliling. Istrinya, Inem, tak mau diajak berlibur ke Bukit Nirwana di Kota Konoha yang belakangan viral itu. Padahal, ia kadung berjanji bareng teman-teman sekantornya untuk berlibur bersama kelurga masing-masing.

img_title Kiai Miftahul Akhyar Rais Aam PBNU 2026-2031 Terpilih

"Pemandangannya bagus di sana, Bu. Nanti kita tidur di vila kelas hotel bintang 5," rayu Adung.

"Terus, siapa yang bayar? Uangnya dari mana?," sergah Inem.

img_title Yenny Wahid Sesalkan Kericuhan Muktamar NU: Kritik Boleh, Anarkis Jangan!

Adung terdiam. Ia memang tak punya uang untuk membayar ongkos liburan mewah itu. Uang gajinya yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari selama satu bulan tinggal sedikit saja. Itu pun sudah masuk dompet istrinya.

Tapi asal Inem mau, Adung berencana meminjam duit ke teman sekantornya, Lahab. Dialah yang punya ide liburan bersama dan yang sanggup meminjamkan duit ke Adung asal mau bergabung.

img_title Partai Rakyat Indonesia Dukung Program Pemerintah Prabowo dalam Pembangunan

"Terus, nanti bayarnya pakai apa? Cukup gaji sampean buat bayar utang? Buat makan saja mesti diatur betul," jawab Inem.

Adung lagi-lagi terdiam.

Adung batal liburan. Tapi bayangan bersantai-santai bersama istri dan teman-temannya di Bukit Nirwana terus tergambar. Itu menambah kekesalannya dan menajamkan rasa irinya yang sejak lama tertanam di hatinya.

Tapi Adung bisa apa. Ia hanya pegawai negeri pangkat rendah di tingkat kecamatan. Gaji sebulan memang tak cukup untuk dibuat berleha-leha. Lahab dan beberapa teman akrab sekantornya sebetulnya juga sama. Pegawai pangkat tak seberapa.

"Tapi kenapa mereka bisa bergaya hidup mewah?," batin Adung.

Adung lantas menimpakan semua kekesalannya itu pada Inem, istrinya. Ia menyimpulkan istrinya amat-amat pelit. Bayangkan, pikir dia, setiap hari lauk di dapur kalau bukan pindang, ya, tahu. Bila pun ada sayur, ya, sayur kelor yang tinggal memetik saja di pekarangan rumah. Tak usah membeli.

Adung ingat, satu hari sehabis kerja ia tak langsung pulang. Ia pergi ke rumah Lahab sampai sore. Di sana, istri Lahab menyuguhkan makanan yang hanya satu tahun sekali ia cicipi: kepiting jumbo balado, cumi-cumi kuah hitam, dan sayur sop berisi ayam gemuk.

"Mana pernah di rumah aku makan lezat macam itu? Huh!," Adung dongkol sendiri.

Halaman Selanjutnya
img_title