Puasa Ramadan Bukan Sekadar Ibadah, Ini Dampaknya bagi Kesehatan Mental

Ilustrasi Efek Puasa bagi Kesehatan mental ChatGPT Image
Sumber :
  • Viva Jatim/Rachmad Fahrizal Tito

Surabaya, VIVA JatimIbadah puasa di bulan Ramadan kerap dipahami sebagai kewajiban spiritual semata. Padahal, di balik praktik menahan lapar dan haus, tersimpan dimensi psikologis yang erat kaitannya dengan kesehatan mental dan stabilitas emosi.

img_title Kesehatan Mental Remaja Mengkhawatirkan, Psikolog UNAIR Dorong Transformasi Well Being di Sekolah

Di tengah padatnya aktivitas, tekanan akademik maupun pekerjaan, serta derasnya arus media sosial, Ramadan justru menjadi momen reflektif untuk menata diri melalui mekanisme puasa.

Menanggapi hal tersebut, Psikolog Klinis Dian Kartika Amelia Arbi menjelaskan bahwa secara ilmiah puasa berkaitan dengan perubahan hormon dalam tubuh yang berdampak langsung pada kondisi psikis seseorang.

img_title Muswil IDI Jatim di Gresik Jadi Momentum Penguatan Sistem Kesehatan Daerah

Endorfin Meningkat, Stres Menurun

Dosen Psikologi di Universitas Airlangga (UNAIR) itu menyebutkan, sejumlah penelitian menunjukkan puasa dapat memicu peningkatan hormon endorfin. Hormon ini dikenal berperan dalam menciptakan rasa tenang sekaligus membantu menurunkan tingkat stres secara alami.

img_title Kukuhkan 2 Profesor Baru, Umsura Angkat Isu Kesehatan Mental dan Transformasi Pendidikan Abad 21

Meski hasil penelitian bisa beragam, secara umum proses menahan diri saat berpuasa mendorong tubuh memproduksi hormon positif yang mendukung suasana hati lebih stabil.

“Pada dasarnya puasa merupakan sebuah latihan untuk meningkatkan kontrol diri. Puasa melatih individu untuk menahan diri dalam melakukan sesuatu secara berlebih. Jika rutin dilakukan, hal ini akan berdampak signifikan pada penguatan kontrol diri seseorang,” ujar Dian. Senin 23 Februari 2026.

Latihan Kontrol Diri dan Stabilitas Emosi

Menurutnya, inti dari puasa bukan semata menahan lapar dan haus, melainkan melatih self-control. Kemampuan ini menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental.

Dengan kontrol diri yang baik, seseorang lebih mampu mengenali, memahami, dan mengelola dorongan emosinya. Hal tersebut sangat relevan di tengah tekanan pekerjaan maupun tugas akademik yang kerap memicu kecemasan.

“Kontrol diri yang terlatih membantu individu lebih stabil secara emosional dan tidak mudah reaktif terhadap tekanan,” jelasnya.

Puasa Bukan Terapi Utama, Tapi Bisa Mendukung

Dalam konteks intervensi psikologis, Dian menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada penelitian kuat yang menempatkan puasa sebagai metode utama dalam mengatasi gangguan mental.

Namun demikian, puasa kerap menjadi aktivitas pendukung dalam proses pengobatan atau terapi psikologis karena sifatnya yang menyeluruh melibatkan aspek fisik, emosional, hingga spiritual.

Halaman Selanjutnya
img_title