Integrasi LKLB dalam Pendidikan Islam: dari Kurikulum Cinta ke Transformasi Pedagogis

Prof. Dr. Hj. Husniyatus Salamah Zainiyati, M.Ag
Sumber :
  • Dokumen pribadi Prof Husniyatus Salamah Zainiyati.

DISKURSUS pengembangan kurikulum pendidikan Islam di Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Di satu sisi, pendidikan Islam dituntut untuk menjaga dan memperkuat identitas keagamaan. Di sisi lain, ia juga dihadapkan pada realitas sosial masyarakat yang plural, dinamis, dan kerap diwarnai ketegangan atas nama agama dan budaya.

img_title Alumni Baru UIN Sunan Ampel Resah, Ijazah akan Ditandatangani Plt, Bukan Rektor Definitif

Dalam konteks inilah, gagasan Kurikulum Berbasis Cinta yang diusung Kementerian Agama, serta integrasi Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) ke dalam kurikulum perguruan tinggi keagamaan Islam, menjadi tawaran konseptual yang patut dicermati secara serius.

Integrasi LKLB dalam kurikulum, seperti yang dikembangkan di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Sunan Ampel Surabaya, menunjukkan pergeseran paradigma penting dalam pendidikan Islam. Kurikulum tidak lagi semata-mata dipahami sebagai instrumen transfer ilmu keagamaan, tetapi sebagai ruang pembentukan cara pandang, sikap, dan tanggung jawab sosial mahasiswa sebagai warga bangsa dan warga dunia.

img_title Forum Guru Besar Soroti Transisi Kepemimpinan UIN Sunan Ampel

Dengan demikian, pendidikan Islam diposisikan bukan hanya sebagai proyek identitas, melainkan juga sebagai proyek kemanusiaan. Secara konseptual, LKLB menuntut kemampuan memahami agama—baik agama sendiri maupun agama lain—dalam konteks sosial dan budaya yang melingkupinya.

Literasi keagamaan semacam ini tidak berhenti pada pengetahuan normatif-teologis, tetapi juga mencakup sensitivitas terhadap pengalaman keberagamaan orang lain. Dalam kerangka pendidikan Islam, pendekatan ini menantang kecenderungan eksklusivisme dan skripturalisme sempit yang sering kali hadir dalam praktik pembelajaran.

img_title Shifu dan Sahabat

Integrasi LKLB ke dalam Outcome Based Curriculum (OBC) menjadi langkah strategis karena memungkinkan nilai-nilai cinta, empati, dan keadilan diterjemahkan ke dalam capaian pembelajaran yang terukur. Melalui pendekatan Outcome Based Learning and Teaching (OBLT), nilai tidak berhenti sebagai slogan normatif, tetapi diartikulasikan dalam kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan lulusan.

Rencana Pembelajaran Semester (RPS) berbasis cinta dan LKLB menjadi medium penting untuk memastikan bahwa proses pembelajaran benar-benar bergerak ke arah internalisasi nilai, bukan sekadar penguasaan materi. Namun demikian, integrasi LKLB tidak cukup jika hanya berhenti pada level dokumen kurikulum. Tantangan utamanya justru terletak pada transformasi pedagogi.

Halaman Selanjutnya
img_title