Khidir di Lirboyo
- Nur Faishal/Viva Jatim
"IKUT ke Lirboyo, yuk!"
"Oke."
Di akhir malam kedua puluh Ramadan itu, kami berangkat dari Surabaya menuju Kediri, kota Pondok Pesantren Lirboyo berada. Tujuannya satu: Gus Reza. Keperluannya satu: meminta kata pengantar untuk buku yang akan diterbitkan. Harapannya satu: melalui jembatan Gus Reza mendapatkan berkah dari Allah.
Kami dimaksud adalah saya sendiri, sahabat saya, Imam Syafi'i: kakak satu tingkat di atas saya saat kuliah, Edi Affan Efendi; dan tiga adik tingkat kuliah saya, Zainuddin alias Jay, Alfin, dan Thariq. Kami semua satu almamater di Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Sementara anggota tim lain, Hafidz dan Faros, tak ikut, jadi penjaga gawang di kantor.
Kecuali saya, mereka semua adalah advokat dan calon advokat yang tergabung dalam Kantor Hukum Imam dan Rekan, disingkat KHIDR. Jay yang juga seorang aktivis kadang pura-pura terpleset lidah dengan menyebut KHIDR dengan KHIDIR, nama nabi yang bagi umat Islam diyakini masih hidup. Plesetan itu jadi penyemangat bagi kami.
Sore hari kami pun berangkat satu mobil. Kami mengejar waktu usai tarawih langsung sowan. Karena itu kami hanya singgah sebentar di rest area Mojokerto sekadar minum membatalkan puasa. Kami sampai di Kediri sekitar pukul delapan malam dan langsung menuju Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah.
Al-Mahrusiyah bagian dari Pondok Pesantren Lirboyo. Pendirinya adalah KH Imam Yahya Mahrus, putra dari KH Mahrus Aly. Karena kealiman dan kewaraannya, Kiai Mahrus diambil menantu oleh pendiri Pesantren Lirboyo, KH Abdul Karim. Saat ini, Al-Mahrusiyah diasuh oleh cucu Kiai Mahrus, KH Reza Ahmad Zahid atau Gus Reza.
Seperti kakek dan ayahnya, Gus Reza juga alim. Kealiman kiai muda itu diakui masyarakat. Jejak digital pendapat-pendapat Gus Reza soal apa pun dari sudut pandang Islam bisa Anda lihat dan baca sendiri di media sosial.
Gus Reza juga berwawasan luas. Ia juga mengikuti perkembangan sosial dan politik kekinian, juga ekonomi. Maka ketika disodorkan buku Sang Penyelamat Aset dari Cengkraman Bank karya Imam Syafi'i, Gus Reza langsung mengamini untuk memberikan kata pengantar. Tentu saja pandangannya dari sudut pandang Islam.