Khidir di Lirboyo

Tim KHIDR sowan ke Gus Reza di PP HM Al Mahrusiyah Lirboyo Kediri.
Sumber :
  • Nur Faishal/Viva Jatim

"Ini isi [buku]-nya tidak menjelek-jelekkan bank, kan?," tanya Gus Reza.

img_title PBNU Survei 9 Pesantren Calon Lokasi Muktamar NU Ke-35, Ada Lirboyo

"Tidak, kiai. Kami lebih fokus menelaah dari sisi hukumnya saja," jawab Imam.

Soal buku kami tak mengobrol banyak. Seperlunya saja. Gus Reza bicara hal lain, tapi masih seputar ekonomi Islam. Sesekali soal NU.

img_title Shifu dan Sahabat

Kata dia, di dalam Islam ilmu ekonomi terdedah dalam muamalah.

"Yahya bin Umar, Syaikh pertama yang menulis tentang muamalah. Ia menulis kitab Ahkamus Suuq (Hukum-hukum Pasar).

img_title Fikih, Tahu Diri, dan Marwah Kepemimpinan NU

Syaikh Yahya bernama lengkap Abu Bakar Yahya bin Umar bin Yusuf Al-Kannani Al-Andalusi. Ia lahir pada 213 Hijriah atau 930 Masehi dan dibesarkan di Kordoba, salah satu provinsi di Spanyol. Saat itu, Islam berada di puncak keemasan. Ilmu pengetahuan berkembang pesat. Hal itu memengaruhi keilmuan Syaikh Yahya.

Gus Reza juga bicara tentang konsep rezeki dan hubungannya dengan pekerjaan. Ia lantas mengutip ungkapan masyhur ulama: Harrik yadaka ya'tiikar rizqu. Versi lain dengan kalimat lebih panjang berbunyi begini: Harrik yadaka unzil 'alaikar rizqa.

Makna bebasnya kira-kira begini: Bergeraklah maka rezeki akan mendatangimu. Berusahalah. Bekerjalah. Maka Allah pasti akan memberi sesuai apa yang engkau usaha dan upayakan.

Bagi kami, ungkapan ulama yang disampaikan Gus Reza itu seperti grojokan BBM di tengah-tengah krisis energi akibat perang Iran Vs AS-Israel. Kami yang sudah berkali-kali jatuh dan bangkit tambah semangat lagi: kesuksesan dan keberkahan bakal direngkuh.

Gedung Yayasan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Photo :
  • Nur Faishal/Viva Jatim

Setelah dari Gus Reza, kami memutuskan melengkapi perjalanan spiritual kami dengan berziarah ke makam Kiai Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, dan masyayikh keluarga besarnya, di Lirboyo pusat.

Setelah itu kami ke pusat kuliner pecel tumpang di jalan sekitar Stasiun Kediri. Menyelesaikan urusan perut, menyempurnakan buka puasa yang tertunda.

Kami lalu pulang dengan perasaan riang. Seperti petapa yang baru saja bertemu Nabi Khidir.