Shifu dan Sahabat
- Nur Faishal/Viva Jatim
SEBELUM dibangun banyak gedung tinggi di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, sebuah toko buku berdiri di sisi timur Masjid Ulul Albab kampus tersebut. Namanya Toko Buku LKiS, pusatnya di Yogyakarta. Supervisornya namanya Khaerul Azmi, pemuda Tangerang yang S1-nya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, lalu mengelola toko buku sambil S2 di UIN Surabaya. Di toko itu dia dibantu Kang Syam, asli Bantul.
Di toko buku itulah kemudian lahir namanya Komunitas Baca Surabaya, disingkat Kombas. Pendiri sekaligus pembinanya Rektor UINSA saat itu, Prof Nur Syam. Anggotanya beberapa mahasiswa, termasuk saya. Kami didampingi kader tulennya Prof Nur Syam, Cak Habib Musthofa. Waktu itu dia masih dosen muda. Jadi banyak waktu untuk menemani kami. Usai mengajar biasanya cangkruk sambil baca buku bareng lalu diskusi. Malamnya main catur atau poker, setelah itu kadang ziarah ke makam Sunan Ampel.
Itu sekitar tahun 2007. Ketika kampus di Jalan A Yani Surabaya itu masih bernama IAIN – kondektur bis kota biasa mengucapkannya dengan gampang sehingga terdengar ‘Yayen’. Prof Nur Syam dan Azmi memanfaatkan adanya toko tersebut lebih dari sekadar jualan buku. Kami, anggota Kombas, disilakan membaca buku apa pun dan kapan saja di situ, lalu isinya didiskusikan bersama. Azmi tentu mengamini, apalagi ia merasa senang punya teman ngobrol ketika kami biasa menginap di tempat jualannya.
Tidak sekadar baca dan diskusi. Di Kombas kami juga dilatih menulis. Apa pun ditulis. Dari sastra, kolom, hingga resensi buku. Sebagai tantangan, setiap tulisan yang dibuat harus dikirim ke koran – waktu itu media online belum ngetren. Bila dimuat senangnya bukan main. Bangga plus dapat honor. Setiap tulisan yang dimuat koran harus dibedah. Si penulis memaparkan gagasan dari tulisannya. Narasumber diundang untuk membedah. Di situ penulis dibiasakan bertahan dari bantaian pembedah dan peserta.
Sebelum jadi toko buku, gedung itu dipakai sebagai kantin. Ada dua warung jadi langganan saya, salah satunya Mak Yam. Ia seperti ibu bagi kami para mahasiswa dan aktivis nekat. Banyak mahasiswa yang menggantungkan suapan nasi padanya. Warungnya jadi ruang menulis kami saat itu: menulis bon makanan. Karena itu ketika Mak Yam meninggal dunia beberapa tahun lalu, sebuah buku mengenang Mak Yam kumpulan tulisan para aktivis diterbitkan. Salah satu yang menulis ialah mantan Menpora Imam Nahrawi. Saya juga menyumbang tulisan di buku itu.
Di luar Kombas, ada komunitas lain yang kira-kira kegiatan dan tujuannya sama. Ada Pondok Budaya Ikon yang bermarkas di kampung belakang UINSA, numpang ke gudang buku sebuah penerbit. Anggotanya juga suka menulis dan mengirim tulisan ke koran-koran. Ada yang bergerak secara personal dan atas nama persahabatan tanpa nama komunitas. Mereka juga rajin membaca, diskusi, dan mengirim tulisan ke koran-koran. Kami bersaing satu sama lain dan antarkomunitas. Atmosfer literasinya begitu terasa.
Hingga akhirnya pada 2009 saya keluar dari kampus tanpa gelar. Tapi berkat berproses di Kombas dan pers kampus LPM Arrisalah, juga ‘berkompetisi’ dengan teman-teman yang memiliki kesukaan dan kebiasaan yang sama, saya tak kebingungan mendapatkan pekerjaan. Saya masuk ke dunia jurnalistik dan menjadi jurnalis hingga sekarang. Tanpa bekal ijazah, hanya bermodal pengalaman menulis dan menulis.
Semua yang berproses bareng-bareng saat itu juga menemukan hikmah dan berkahnya belakangan. Ada yang menekuni dunia perbukuan sampai sekarang dan sukses. Ada yang jadi politisi dan meraih posisi strategis. Ada yang jadi kiai seperti Khaerul Azmi. Kebanyakan jadi akademisi. Ada yang tetap jadi penulis tapi ada plusnya: plus diakui sebagai kiai dan akademisi sekaligus seperti Gus Rijal Mumazziq.
Di pengujung Juni beberapa hari lalu, saya berjumpa dengan Prof Nur Syam setelah hampir 20 tahun tak bersua. Ia diundang menyampaikan orasi kepesantrenan bersama alumni Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura (Kabanas), Kabupaten Sumenep, Madura, dalam rangka harlah pesantren itu. Sebagai alumni, saya juga hadir. Alangkah senangnya diri ini ketika saya salami dan Prof Nur Syam kaget campur senang begitu tahu yang mengulurkan tangan adalah saya. Sambil salaman dia bilang, “Ini murid saya dulu di IAIN.”
Pentas kolosal Harlah PP Nasy
- YouTube PP NASA Official
Saya senang karena, bukankah puncak kebahagiaan seorang murid adalah ketika selamanya diakui sebagai murid oleh sang guru? Seperti di film-film kungfu, betapa sedihnya seorang pendekar ketika dicabut statusnya sebagai murid oleh shifu-nya. Saking senangnya, saya pun kembali menemui Prof Nur Syam saat ‘diculik’ sahabat-sahabat IKA UINSA ngobrol santai tentang kepesantrenan di sebuah kafe di Kota Sumenep. Di sana kami lebih banyak waktu mengobrol.
Tak dinyana, di hari yang sama, Gus Rijal Mumazziq juga diundang ke PP Nasy’atul Muta’allimin Gapura: siang mengisi FGD di STAINAS dan malamnya berceramah di acara Harlah ke-67 pondok pesantren tersebut. Sehabis Magrib saya hampiri dia saat diskusi santai di balai tamu kediaman Pengasuh Pesantren Nasy’atul Muta’allimin, Kiai Dardiri Zubairi. Karena FGD itu saya urungkan menemuinya saat siang, khawatir mengganggu FGD terbatas itu dan ia butuh istirahat untuk berceramah di malam hari.
K A Dardiri Zubairi di acara Harlah PP Nasy
- YouTube PP NASA Official
Begitu sampai di balai tamu Kiai Dardiri, saya disambut gaya khas Gus Rijal yang selalu heboh itu. kami bersalaman dan berpelukan. Sayang, pertemuan itu begitu singkat. Tak banyak ngobrol sambil ngopi. Saya harus menghormati FGD terbatas yang digelar STAINAS yang pesertanya hanya civitas akademika kampus itu. “Setengah delapan FGD-nya dimulai lagi,” bisik, Ketua STAINAS, Kiai Anas.
Meski begitu saya sudah sangat senang. Harlah PP Nasy’atul Muta’allimin Gapura tahun ini begitu istimewa. Saya bisa sowan ke kiai dan para guru yang membimbing saya selama jadi murid di lembaga pendidikan formal dan non-formal di pesantren itu. Juga bisa bertemu shifu dan sahabat saat di UINSA setelah hampir 20 tahun tak bersua.
Gus Rijal Mumazziq Z di PP Nasy
- YouTube PP NASA Official