Ngaji Talabtaban
- Dokumen pribadi
Tiga putrinya diajari So mengaji talabtaban. Putri pertamanya kini sudah berkeluarga dan punya anak. Putri keduanya kini mondok di Alkarimiyah dan fokus di tahfidz. Rencananya mau meneruskan ke Pondok Pesantren Sukorejo, Situbondo. Adapun putri ketiganya masih kecil. Nah, kini giliran putri yang terakhir yang diajari mengaji ala talabtaban oleh So.
“Sekarang sulit cari guru ngaji yang mengajari kitab talabtaban,” kata So.
Dia benar. Bocah tetanngga yang mengaji ke mertua saya banyak yang pindah ke musala lain. Alasannya karena diajari gaya talabtaban. Kebanyakan dari mereka lebih senang dengan metode cepat. Langsung a-ba-ta-tsa, emoh dari alif-bak-ta’-tsa’. Makanya pindah.
Padahal, kata So, mengaji ala kiai dulu seperti talabtaban bukan semata mentransfer ilmu. Tapi juga melatih ketekunan santri dalam membaca dan memahami makna dari isi kitab yang dibaca. Bagaimana tidak, santri disuruh baca, lalu memaknai secara bahasa, kemudian menerangkan maksud daripada kalimat yang dibaca. Rinci-ci-ci. Keliru sedikit saja disuruh ulang oleh guru.
Ngaji satu kitab pun bukan hanya sekali. Diulang lagi setelah khatam, memastikan santri betul-betul paham. So sendiri mengaku mengkhatamkan Kitab Arkan karya Syaikhona Yahya dengan metode talabtaban sampai tiga kali. Karena itu betul-betul membekas, hafal dan paham di luar kepala.
“Anak saya baru baca saja saya langsung ingat dan tahu di mana salahnya,” tandas So.
So sopir travel, So juga pintar ngaji kitab dan guru ngaji buat anak-anaknya.
Cuma So tak suka pamer di medsos.