Nasihat Sang Celurit Emas: Jalani Hidup dengan Ikut Jejak Ulama

KH D Zawawi Imron, Budayawan Nasional
Sumber :
  • Istimewa

Jatim – Ibarat lentera dalam kegelapan, kehidupan manusia pastilah membutuhkan acuan dan rujukan. Agar segala urusan hidup lebih terarah dan menjadi lebih baik. Lentera itu muncul seiring dinamika perjalanan hidup melalui perantara sesama manusia. Tentu saja, mereka yang menjadi perantara adalah manusia-manusia pilihan dari Allah SWT. 

Respon PBNU soal Pendeta Gilbert yang Olok-olok Salat dan Zakat

Manusia pilihan itu tak lain adalah para ulama yang sedari awal senantiasa ikhlas membimbing dan melayani segala urusan umat. Menurut Budayawan Nasional, KH D Zawawi Imron, atau yang akrab disapa Pak De, para ulama sudah sepantasnya dijadikan rujukan karena mereka adalah pewaris ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW. 

Anapa Bintang mak bennyak, se sanga’ mak tera’ kabbhi. Anapa mak nuro’ ulama, karena ulama ahli warits Nabi. (Kenapa Bintang jumlahnya banyak, yang sembilan terang berseri. Kenapa kita ikut ulama, karena ulama ahli warits Nabi),” kata Pak De membacakan bait-bait pantunnya saat mengisi acara Peringatan 1 Abad NU di Sumenep, Sabtu, 4 Maret 2023. 

Silaturahmi Ramadan, Ketua NU Jatim Ajak Jaga Persatuan Bangsa

Pria yang dijuluki Sang Celurit Emas itu lantas mengungkapkan bahwa para ulama senantiasa mengajarkan akhlak atau perilaku yang baik sebagai dasar utama dalam melakoni hidup. Dengan akhlak, hidup manusia akan lebih mulia. 

Perihal yang demikian, kata Pak De, hanya ada dan diajarkan di Nahdlatul Ulama. Sebagai organisasi sosial keagamaan yang telah mencapai usia 100 tahun, NU tetap berkomitmen menjadikan para ulama sebagai rujukan dalam berbagai urusan. Sehingga, ia menegaskan bahwa bila mengikuti NU berarti ikut jejak para ulama. 

Perkuat Sinergi dengan Awak Media, NU Jatim Ajak Budayakan Tabayun 

Nginum jhamu e are Ahad, abhajang Jumat e Masjid Banjeru. Kalamon elmu terro manfaat, kodhu hormat amuljaaghi ghuru. (Minum jamu di hari Ahad, shalat Jumat di Masjid Banjeru. Kalau ingin mendapatkan ilmu bermanfaat, haruslah menghormati guru atau ulama). Inilah NU, bukan NU kalau tak punya tatakrama,” tegasnya. 

“Kenapa ikut NU? Ibu dan bapak saya sudah NU, jadi sebelum saya lahir, sudah NU lebih dulu. Di NU diajarkan bagaimana hormat dan takdzim kepada ulama dan guru,” lanjutnya.

Pak De menambahkan, bahwa selain menghormati dan ikut ulama, juga hendaknya memuliakan kedua orangtua. Keduanya merupakan kunci surga yang oleh setiap manusia harus dipegang teguh. Memuliakan orangtua, segala urusan akan menjadi lebih berkah. 

Ngakan topak lek ghengani labu, ajjek loppa ngunjhang tatangge. Nyium tanangnga eppak ban ebhu, egharassa roomma soargha. (Makan ketupat kuah labu, jangan lupa mengundang tetangga. Mencium tangan bapak dan ibu, akan terasa harumnya surga),” tandasnya.