Surya Paloh Soroti Krisis Karakter dan Nalar Publik

Ketum Partai NasDem Surya Paloh.
Sumber :
  • Achmad Faizal/VIVA Jatim

Surabaya, VIVA Jatim –Pengukuhan Prof. Dossy Iskandar Prasetyo sebagai Guru Besar di Universitas Bhayangkara (Ubhara) Surabaya, Rabu 22 April 2026, tidak berhenti pada seremoni akademik. Momentum ini berkembang menjadi ruang refleksi yang tajam tentang arah demokrasi dan kondisi kebangsaan saat ini.

img_title Sekjen Hermawi Taslim : Probolinggo adalah Aset Politik Nasdem

Sejumlah tokoh nasional hadir dalam forum tersebut, di antaranya, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Direktur Eksekutif Nagara Institute Akbar Faizal, serta anggota DPR RI dan DPRD, kalangan akademisi, dan pimpinan perguruan tinggi.

Dalam pidato ilmiahnya, Prof. Dossy mengangkat tema “Ide Normatif Partai Politik dalam Konteks Konstitusi dan Cita Demokrasi”. Ia menegaskan, partai politik tidak semestinya terjebak sebagai kendaraan kekuasaan.

img_title Akhir Juli 2026, Bulog Jatim Salurkan 99.004 Ton Beras ke 4.050 Outlet

Peran utama partai adalah menjaga konstitusi, merawat etika demokrasi, dan menyalurkan aspirasi publik secara berintegritas. Gagasan tersebut berhadapan dengan realitas yang disorot oleh Surya Paloh dalam sambutannya.

Ia menilai praktik politik hari ini semakin menjauh dari nilai ideal, tercermin dari ruang publik yang riuh namun kehilangan kedalaman. Menurutnya, diskursus publik telah bergeser dari adu gagasan menjadi pertunjukan sensasi.

img_title Khofifah Lantik Aftabuddin Sebagai Kepala Dinas ESDM Jatim Definitif

Perdebatan berlangsung dangkal, minim arah, dan jauh dari isu-isu strategis yang seharusnya menjadi perhatian utama.

“Yang kita lihat hari ini bukan kekayaan pikiran, tetapi kemiskinan nalar yang dipertontonkan. Ruang publik kian bising oleh opini tanpa dasar, perdebatan tanpa arah, dan kegaduhan yang miskin substansi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti melemahnya kohesi sosial. Kepercayaan antarwarga terus menurun, digantikan oleh menguatnya egoisme dan orientasi material. Dalam situasi seperti ini, nilai kejujuran, keadilan, dan kebenaran kerap tereduksi menjadi slogan.

Surya Paloh melihat persoalan bangsa tidak berhenti pada kelemahan institusi. Akar persoalan berada pada krisis karakter. Ia mengkritik kecenderungan saling menyalahkan yang terus berulang tanpa diiringi keberanian melakukan introspeksi.

“Bangsa ini gemar mencari kambing hitam, tetapi miskin keberanian untuk mengoreksi diri,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menggarisbawahi peran strategis kalangan intelektual. Akademisi tidak cukup menjadi produsen teori. Mereka diharapkan hadir sebagai penjaga moral publik yang aktif memberi arah.

Halaman Selanjutnya
img_title