Santri Masa Kini: Antara Kitab Kuning dan Coding

Ilustrasi santri di pesantren.
Sumber :
  • Viva.co.id

Surabaya, VIVA Jatim – Di pesantren-pesantren Indonesia, pemandangan santri bersarung, duduk bersila dengan kitab kuning di pangkuan adalah hal yang akrab. Namun, kini di sejumlah sudut pesantren, ada juga santri yang menatap layar laptop, merangkai baris-baris kode seperti layaknya programmer Silicon Valley. Inilah wajah baru santri masa kini—merangkai masa depan dengan ilmu agama dan teknologi.

img_title Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal pun dari Pesantren?

Kitab kuning, yang ditulis dalam bahasa Arab gundul tanpa harakat, adalah simbol tradisi keilmuan pesantren. Dari Tafsir Jalalain, Fathul Qarib, hingga Ihya’ Ulumuddin, kitab-kitab itu membentuk fondasi keilmuan Islam klasik yang telah dipelajari santri selama ratusan tahun.

“Kitab kuning bukan sekadar pelajaran, tapi sarana membentuk karakter, akhlak, dan pemahaman mendalam tentang agama,” ujar KH. Ahsin Sakho, pakar ilmu tafsir dan mantan rektor IIQ Jakarta.

img_title Kiai Imjaz di Mata Gus Ipang Cicit Mbah Hasyim: Dia Pemimpin Masa Depan NU

Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Nusantara telah lama menjadi pusat pembelajaran agama yang melahirkan tokoh-tokoh nasional, dari KH. Hasyim Asy’ari hingga KH. Abdurrahman Wahid.

Coding: Bahasa Masa Depan

img_title Muktamar NU dan Harapan Kepemimpinan Baru di PBNU

Namun dunia terus berubah. Revolusi digital menghadirkan tantangan dan peluang baru. Di tengah era kecerdasan buatan, big data, dan Internet of Things (IoT), keterampilan digital seperti coding menjadi modal penting.

Tak sedikit pesantren kini mulai mengajarkan ilmu komputer, desain grafis, hingga pemrograman kepada santri. Salah satu pelopornya adalah Pesantren Nurul Jadid di Paiton, Probolinggo, yang telah mendirikan Pesantren IT. Di sana, santri belajar membuat website, aplikasi Android, bahkan ikut kompetisi teknologi tingkat nasional.

Begitu pula di Pesantren Tebuireng, Jombang, yang meluncurkan program Digital Santri bekerja sama dengan startup teknologi. Para santri diajarkan membuat konten edukatif dan menyebarkan dakwah di dunia digital dengan cara yang kreatif dan positif.

“Tujuan kami bukan sekadar menjadikan santri melek teknologi, tetapi juga membentuk mereka sebagai pelaku dan pemimpin transformasi digital,” kata Hudaemi, koordinator program Santri Digital Nusantara di bawah Kemenkominfo.

Meretas Batas: Ilmu Dunia dan Akhirat

Santri masa kini tak lagi melihat dikotomi antara ilmu agama dan ilmu modern. Mereka menyadari bahwa keduanya bisa berjalan beriringan, saling menguatkan. Coding pun tak hanya dipelajari sebagai skill teknis, tetapi juga sebagai sarana ibadah dan kontribusi untuk umat.

Beberapa santri bahkan mulai mengembangkan aplikasi digital Islami seperti jadwal sholat, kitab digital, aplikasi zakat, dan platform belajar ngaji online. Mereka menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar keilmuannya.

Seperti dikatakan oleh KH. Mustofa Bisri, “Santri itu harus bisa hidup di langit dan di bumi. Faham agama, tapi juga melek zaman.”

Tantangan dan Harapan

Meskipun antusiasme tinggi, integrasi teknologi ke dalam sistem pesantren tak lepas dari tantangan. Keterbatasan infrastruktur, akses internet, dan kapasitas SDM masih menjadi kendala di banyak pesantren kecil di daerah.

Namun sinyal positif terus bermunculan. Pemerintah melalui program Santri Digitalpreneur dan Digital Talent Scholarship mulai melibatkan pondok pesantren dalam pemberdayaan teknologi. Beberapa NGO seperti Nusantara Foundation dan Dompet Dhuafa juga menggulirkan pelatihan coding untuk santri.

Santri masa kini sedang bergerak ke arah baru. Dari yang dulu hanya dikenal sebagai penjaga tradisi, kini mereka juga menjadi penjelajah masa depan. Mereka membaca *kitab kuning* untuk memahami hikmah ilahi, dan merangkai coding untuk menjawab tantangan zaman.

Dengan tetap berpijak pada nilai-nilai pesantren—keikhlasan, kesederhanaan, dan akhlakul karimah—santri masa kini adalah harapan baru Indonesia: seimbang antara spiritualitas dan digitalitas.