Ngaji Talabtaban

Buku-buku di salah satu kedai di Sumenep, Madura.
Sumber :
  • Dokumen pribadi

TALABTABAN adalah istilah metode belajar kitab di lingkungan pesantren tradisional. Teknisnya, seorang santri membacakan isi dari kitab yang dipelajari, memaknai secara rinci, dengan cara dilagukan atau bernada sambil disimak oleh kiai atau guru. Bila santri keliru membaca atau memaknai, maka dikoreksi oleh sang kiai.

img_title Madura United Rencanakan Gelar Pemusatan Latihan di Yogyakarta

Talabtaban istilah tak umum. Yang banyak orang tahu. metode pembelajaran individual seperti itu disebut dengan sorogan. Saya sendiri mengetahui istilah talabtaban dari So, sopir travel dengan armada L300 miliknya yang biasa nongkrong di kedai langganan saya. Saat ngobrol itulah dia mengaku setiap Magrib mengajari anak-anaknya kitab Arkan dengan metode talabtaban.

“Habis Magrib anak saya ngaji Alquran ke seorang ustaz tetangga saya. Setelah pulang saya ajari sendiri anak ngaji talabtaban,” ujar So.

img_title Apresiasi Kapal Penolong, INSA Minta Respons Penyelamatan Diperkuat Usai Tragedi Mutiara Sentosa II

Talabtaban bisa jadi istilah buatan So sendiri. atau dari guru ngajinya. Dari penjelasan So, saya pun tahu kitab yang dikaji itu dibaca, dimaknai, dan dijelaskan dengan cara dilagukan. Bahasa pengantarnya Madura. Itu metode sama yang dipakai mertua saya saat mengajari cucu dan bocah-bocah tetangga.

Kitab yang diajarkan So kepada anaknya juga sama dengan yang diajarkan mertua saya, yakni Arkan. O, itu metode dan kitab yang biasa digunakan oleh para kiai di Kampung Labicabbhi dan Sema, Desa Gapura Tengah, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, Madura. 

img_title Launching 10.000 MCK, Gus Muhaimin: Sanitasi di Pesantren Sudah Tidak Rasional!

Lambicabbhi dan Sema adalah kampung yang mayoritas warganya bertalian secara nasab. Juga sanad keilmuannya yang bermuara ke Syaikhona Yahya Karanganyar, Kamal, Kabupaten Bangkalan, Madura. Dari sanalah tradisi mengaji metode Talabtaban tersebar ke Sumenep dan masih lestari, terutama di Lambicabbhi dan Sema.

Saya heran So bisa mengaji dan bahkan mengajari anaknya, talabtaban pula. Selama ini yang saya tahu So adalah seorang sopir dengan tubuh bongsor dan wajah sangar. Dugaan saya, sewaktu kecil hingga remaja ia kategori anak nakal dan ogah belajar. Tak mungkin ia suka mengaji. Ternyata saya keliru. Saya lupa bahwa kulit tak sama dengan biji.

“Saya  sudah jadi kernet sejak kecil. Lalu jadi sopir. Biasanya saat libur sekolah saya cari uang jadi kernet. Tapi saya juga mengaji. Ngaji talabtaban. Saya santrinya Kiai Badrun [kiai kampung di desanya], cuma tidak mondok,” kata So.

Halaman Selanjutnya
img_title