Kisah Inspiratif Alumni Unesa, Dirikan Sekolah Modelling Khusus Difabel

Pendiri Fira Modelling Disability (FMD) Ramadhani Maghfiroh Ayu Putri.
Sumber :
  • Rachmad Fahrizal Tito

Surabaya, VIVA Jatim-Keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang bagi Desy Ramadhani Maghfiroh Ayu Putri untuk berkarya dan memberi manfaat bagi sesama.

img_title Fraksi Gerindra Dukung Jatim Jadi Provinsi Inklusi

Alumnus Program Studi S-1 Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang akrab disapa Fira itu mendirikan Fira Modelling Disability (FMD), sekolah modelling khusus bagi penyandang disabilitas yang bertujuan membangun rasa percaya diri sekaligus mengubah cara pandang masyarakat terhadap kelompok difabel.

FMD yang dirintis sejak Fira masih duduk di bangku kuliah kini telah beroperasi di Surabaya dan Malang. Saat ini, sekitar 35 penyandang disabilitas mengikuti pelatihan modelling dan seni gerak di lembaga tersebut.

img_title Belajar Jadi Difabel Selama 90 Menit, Cara Unik Mahasiswa VCD UC Rancang Desain Masa Depan

Perempuan kelahiran Surabaya yang merupakan penyandang disabilitas rungu itu memang telah lama menekuni dunia modelling. Berbagai prestasi berhasil diraihnya, termasuk mewakili Indonesia dalam ajang Discover Indonesia: Cultural Performance and Fashion Show di Turki.

Atas dedikasinya di bidang pendidikan inklusif, Fira juga menerima penghargaan Inspiring Women 2022 untuk kategori pendidikan.

img_title Bocah di Lamongan Nekad Perkosa Gadis Berkebutuhan Khusus yang Dikenalnya dari Medsos

Fira mengaku mendirikan FMD karena prihatin melihat masih minimnya ruang bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan potensi diri.

Bersama sang ibu, Juara 1 Putra Putri Fashion Jawa Timur 2021 itu menyusun program pelatihan yang tidak hanya mengajarkan teknik catwalk, tetapi juga tari dan seni gerak untuk meningkatkan kepercayaan diri para peserta.

"Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya dan berprestasi. Saya berharap sekolah ini menjadi wadah untuk membangun rasa percaya diri, mengembangkan keterampilan, sekaligus mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas," ujar Fira.

Dia mengakui mengelola sekolah inklusif bukan perkara mudah. Setiap peserta memiliki karakter, kebutuhan, dan kemampuan yang berbeda sehingga metode pelatihan harus disesuaikan.

Namun, tantangan tersebut terbayar ketika melihat para peserta yang awalnya pemalu dan menutup diri mampu tampil percaya diri di depan publik.

Setelah lulus dari Unesa pada akhir 2025, Fira kini bekerja di FIF Group. Di sela kesibukannya, dia tetap aktif mengajar dan mendampingi peserta didik di FMD.

Menurutnya, lingkungan kampus yang inklusif selama menempuh pendidikan di Unesa menjadi bekal penting dalam membangun kepedulian sosial dan mewujudkan sekolah modelling bagi penyandang disabilitas.

Halaman Selanjutnya
img_title