Kudatuli dan Perang Melawan Lupa
- Istimewa
Setelah gelombang gerakan mahasiswa 1977–1978, pemerintah memberlakukan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus dan membatasi organisasi serta aktivitas politik mahasiswa. Kesadaran kritis tidak mati. Ia berpindah ke kelompok studi, pers mahasiswa, sekretariat organisasi, lembaga bantuan hukum, serta jaringan lembaga swadaya masyarakat.
Pada akhir 1980-an, jaringan mahasiswa lintas kampus mulai tumbuh dan bekerja sama dengan masyarakat yang menghadapi konflik tanah, penggusuran, serta penindasan terhadap buruh. Retakan di balik stabilitas itu terlihat di berbagai tempat.
Pada 1989, gerakan mahasiswa mengalami titik balik baru. Di Kedung Ombo, Jawa Tengah, mahasiswa dari Yogyakarta, Salatiga, Semarang, Surabaya, dan berbagai kota lain turun untuk mendampingi warga yang kehilangan tanah akibat pembangunan waduk. Kedung Ombo menjadi simbol lahirnya orientasi baru dalam gerakan mahasiswa: tidak lagi hanya berbicara tentang demokrasi di ruang kuliah, tetapi juga hadir bersama petani yang menghadapi ketidakadilan atas nama pembangunan.
Di Talangsari, Lampung, pada 1989, pendekatan keamanan terhadap sekelompok warga juga berakhir dengan kematian, penahanan, penyiksaan, dan pengusiran. Peristiwa itu memperlihatkan betapa mudahnya persoalan sosial dan keagamaan ditangani melalui operasi kekerasan ketika negara menutup ruang dialog.
Di Dili pada November 1991, penembakan terhadap peserta prosesi dan demonstrasi di Pemakaman Santa Cruz mengguncang perhatian dunia. Di Sampang, Madura, pada September 1993, empat warga tewas ketika aparat melepaskan tembakan terhadap masyarakat yang memprotes pembangunan Waduk Nipah.
Pada tahun yang sama, Marsinah, seorang buruh perempuan di Sidoarjo, ditemukan meninggal setelah memperjuangkan kenaikan upah dan hak-hak pekerja. Kematian Marsinah membangkitkan gelombang solidaritas nasional. Mahasiswa tidak lagi berbicara tentang buruh sebagai angka dalam laporan pembangunan. Mereka berhadapan dengan kenyataan bahwa menuntut upah yang layak pun dapat berakibat fatal bagi nyawa.
Demonstrasi mahasiswa di Surabaya pada 1993 menjadi salah satu gelombang penting yang mempertemukan gerakan kampus dengan perjuangan buruh. Di Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, hingga Ujung Pandang, aksi mahasiswa, pemogokan buruh, advokasi tanah, dan demonstrasi politik terus bermunculan.
Pada April 1996, aksi penolakan kenaikan tarif angkutan di Ujung Pandang berakhir dengan masuknya pasukan ke kampus Universitas Muslim Indonesia. Sedikitnya tiga mahasiswa meninggal dan lebih dari seratus orang terluka. Solidaritas kemudian bergerak di berbagai kota.