Simak Cara Rasulullah Bina Rumah Tangga agar Terhindar dari KDRT

Ilustrasi KDRT
Sumber :
  • Istimewa

Jatim – Setiap orang pasti mengharapkan hubungan rumah tangga yang harmonis. Bahtera cinta yang jalin antara suami dan istri juga diharapkan tak hanya menghadirkan kebahagiaan, melainkan juga keberkahan. Dikaruniai momongan dan tumbuh dewasa menjadi anak kebanggaan keluarga. Demikian ini adalah harapan semua orang. 

img_title Islam Bukan Masa Lalu: Saat Warisan Peradaban Bertemu Kecerdasan Digital Metaverse

Namun tak jarang, kesalahpahaman dan ketidaksamaan pandangan seringkali memicu terjadinya pertengkaran hingga berujung tindakan kekerasan. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kerap terjadi bukan karena persoalan ekonomi, sebab kasus yang satu ini kebanyakan dialami kalangan yang berada, utamanya di kalangan para artis. 

Mewah dan melimpahnya harta bukanlah jaminan kehidupan rumah tangga yang harmonis. Tanpa ditopang dengan sikap saling menghargai dan memahami baik buruknya pasangan, bahtera rumah tangga dipastikan tak akan bertahan lama. 

img_title Prihatin dengan Kondisi Umat Islam Timur Tengah di Tengah Ketegangan Geopolitik

Baru-baru ini sempat viral di media sosial terkait Venna Melinda yang melaporkan suami Ferry Irawan atas dugaan kasus KDRT. Setelah sebelumnya dikabarkan bahwa Venna alami luka pada bagian hidung, juga terdapat kesaksian dari salah seorang yang kamar hotelnya bersebelahan dengan kamar Ferry dan Venna. Ia mengaku bahwa sempat ada tangisan dan jeritan hingga membikin kaget. 

Oleh sebab itu, dilansir dari NU Online, berikut ini cara yang dilakukan Rasulullah saw, dalam membina rumah tangga. Hal ini cukup penting diteladani agar terhindar dari petaka kekerasan yang bisa saja berujung pada konsekuensi fatal.

img_title Melihat Alquran Tulisan Tangan Berusia Ratusan Tahun di Mojokerto yang Tintanya Tak Luntur

Sebagai panutan umat Islam, Rasulullah saw sangat menjauhi tindakan kekerasan, seperti halnya memukul dan menyakiti istri. Hal ini termaktub dalam hadits riwayat Muslim yang menyebutkan bahwa Aisyah mengaku tidak pernah sekalipun dipukul oleh Rasulullah. Juga kepada wanita dan para pembantunya. 

Syeikh Al-Bahuti dari Madzhab Hambali menjelaskan bahwa yang lebih baik adalah meninggalkan memukul istri. Setidaknya hadist riwayat Muslim sebagiamana pengakuan Aisyah itu setidaknya menjadi landasan atau dalil bahwa yang lebih utama tentu tidak memukul istri. 

Dalam Al-Quran Surah An-Nisa ayat 34 terdapat satu kalimat yang memiliki makna memukul. Di dalam kitab-kitab tafsir pun memaknai demikian. Namun Ketua Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, KH Makruf Khazin menyebutkan bahwa makna pukulan tidak lantas disematkan kepada pukulan layaknya menempeleng, mendamprat, dan kekerasan lainnya. 

Halaman Selanjutnya
img_title