Ni'mah Rangkul Penyintas HIV/Aids Lewat Majelis Taklim di Tulungagung
- Viva Jatim/Madchan Jazuli
Tulungagung, VIVA Jatim – Penyintas HIV/AIDS seringkali mendapat stigma negatif dari lingkungan sekitar. Membuat Ni'matul Khoiriyah membuat Majelis Taklim 'Sinau Agomo' yang berisikan penyintas untuk lebih memanusiakan manusia hingga memberikan kesempatan yang sama.
Ni'matul Khoiriyah mengungkapkan bahwa inovasi yang ia dirikan adalah 'Ramohan Komata Odha' yang memiliki artinya rangkul, motivasi, obati, dan pertahankan dalam komunitas dan majelis taklim orang dengan HIV/Aids.
"Ini adalah sebuah inovasi salah satu fungsinya adalah membantu proses percepatan penurunan angka HIV/Aids yang ada di Tulungagung," ujar Ni'matul Khoiriyah, Selasa, 4 Juni 2024.
Ni'mah menceritakan awal mendirikan majelis taklim pada 2020 silam 'Sinau Agomo' yang isinya adalah teman-teman penyintas HIV/Aids. Termasuk juga relawan, serta ada yang memang belajar ngaji.
Penyuluh Agama Islam ini menjelaskan alasan mendirikan majelis taklim yang ia inisiasi setiap Hari Selasa karena adanya stigma negatif yang muncul di masyarakat.
Pasalnya, memang masyarakat tidak hanya didominasi oleh masalah kesehatan saja, akan tetapi permasalahan yang menyangkut sisi psikologis, penyintas dikucilkan hingga mengalami diskriminasi.
Alhasil, ruang gerak penyintas terbatas termasuk tidak punya sarana untuk mengaji, bermanfaat dan bermakna. Sehingga dari sisi spiritual muncullah ide dan inovasi Ramohan Komata ini.
"Merangkul mereka dalam artian mereka dimanusiakan, dilibatkan dalam kehidupan sehari-hari dan kehidupan bermasyarakat lebih bermakna," paparnya.
Ni'mah menilai ketika penyintas diajak untuk lebih bermakna dalam hidup memiliki semangat lebih. Lalu, saling memotivasi. Selain itu, mereka berkumpul bisa saling menularkan energi positif kepada teman-teman yang belum ikut juga berpengaruh.
Perempuan yang juga sebagai Wakil Ketua 1 PC Fatayat NU Tulungagung mengatakan ketika mental sudah terbangun, akan memiliki angan-angan dan motivasi ke depan lebih baik.
Termasuk mempertahankan energi positif ini dari dalam penyintas. Tidak memungkiri, kebanyakan orang hanya bisa menjustifikasi perlakukan penyintas, namun tidak memberikan solusi.
Selanjutnya adalah tentang bagaimana mempertahankan mereka dalam komunitas itu, karena yang paling sulit adalah ketika ada orang yang mengatakan oh perbuatan ini haram, tapi mereka tidak memberikan solusinya