Sopir Keluhkan Penumpang Sepi, Hanya Separuh Terisi

Salah satu sopir AKDP trayek Tulungagung-Surabaya.
Sumber :
  • Viva Jatim/Madchan Jazuli

Jatim – Lebaran Hari Raya Idul Fitri tinggal menghitung hari, raut wajah salah satu sopir di Terminal Gayatri Tulungagung tampak lesu. Lantaran, penumpang sejauh ini masih belum ramai, hanya separuh terisi dibanding weekend biasa.

img_title Buka Peringatan Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya, Wamenperin : Momen Lestarikan Wastra Daerah

Sopir Bus PO Harapan Jaya, Dwi Yanto mengungkapkan untuk hari-hari ini belum terlihat peningkatan. Ia beranggapan, hari ini belum masuk cuti bersama Hari Raya Idul Fitri, serta jarang yang ke Kota Pahlawan dari arah Tulungagung.

"Sepi penumpang sejak kemarin ada 3 hari ini. Minggu sore saja penumpang tidak bisa penuh biasanya lepas kota (Tulungagung). Itu bisa separuh saja sudah lumayan," ungkap Dwi Yanto ditemui di sembari menunggu penumpang, Selasa 18 April 2023.

img_title Jadwal Penerbangan Juanda ke Jakarta dan Bandung Kembali Normal

Pria yang sudah menekuni profesi sopir sejak 1992 silam ini mengaku, kecenderungan orang banyak yang mudik balik ke kampung arah Tulungagung daripada arah ke Surabaya. Sehingga tak banyak berharap penumpang yang ia bawa.

"Jumlah penumpang yang dulunya kalau Minggu sore itu bangku 40 bisa full seat, lepas kota (Tulungagung). Kalau hari-hari ini paling hanya 15 sampai 20 orang sudah bagus," ungkapnya.

img_title Pengunjung Meninggal Usai Keluar Wahana Rumah Hantu di Tulungagung, Polisi Selidiki

Sopir berusia 56 tahun ini menambahkan, kalau dari arah Terminal Bungurasih Surabaya ke Tulungagung belum ada penumpang lokal. Sehingga ia mengandalkan datangnya kapal yang dari Luar Jawa. Banyak perantau selepas naik kapal laut, lalu meneruskan perjalanan menaiki bus.

"Penumpang lokal Surabaya balik ke sini belum ada. Iya rata-rata dari luar Jawa. Kita antri kalaupun bersandar, parkir kita jam ada penumpang kapal, ya kita bisa penuh. Kalau tidak ya sudah," ulasnya.

Disinggung omset kotor, dirinya mengungkapkan tidak mesti sama. Kalau hari biasa lagi sepi lalu armada bus keluar semua, bisa minus. Pernah ia dalam sehari hanya mendapatkan beberapa penumpang, sampai terkumpul perolehan Rp 1 juta. Padahal, pada target biaya operasional rata-rata Rp 1,4 juta.

"Kalau sudah begitu kantor yang tekor. Kita yang sistem premi, tidak ada karyawan yang mengganti (target setoran) perusahaan," jelasnya.

Kendati situasi demikian, Dwi Yanto masih optimis akan ada kenaikan menjelang H-2 sampai malam takbiran. Pasalnya, banyak pekerja maupun instansi pemerintahan mengikuti regulasi cuti yang telah ditentukan.

Halaman Selanjutnya
img_title