DSA Ponorogo Konsisten Ekspor 90 Ton Komoditas Kunyit Meski Harga Melejit

Aktivitas gudang DSA Ponorogo
Sumber :
  • DSA Ponorogo

Dan jika ingin dibuat minyak, baru bisa menjadi produk satu tahun kemudian. Pasalnya, ada banyak kendala yang akan dihadapi mulai penelitian dan lain-lain.

Khofifah Berkomitmen Dorong UMKM Tembus Pasa Global

"Kita juga step-nya lumayan panjang itu update untuk rencana minyak turmeric," bebernya.

Sementara untuk pasar lokal, Slamet mengungkapkan sudah tembus ke pasar Bali. Di sana digunakan untuk lulur, spa, dan sebagainya. Sejauh ini pengiriman ke Pulau Dewata cukup menjanjikan sebab rutin setiap bulan membutuhkan stok kunyit.

Ratusan Warga di Kabupaten Ponorogo Krisis Air Bersih Imbas Kekeringan

"Ternyata membutuhkan kunyit untuk lulur di Bali. Sekitar hampir Rp 50 juta dan dia kontinyu rencananya Bali minta setengah jadi, kita bersihkan. Memang itu agak sensitif karena bahan tradisional," imbuhnya.

Slamet mengakui kunyi untuk kian menjadi primadona yang mengakibatkan harganya melejit. Hal tersebut dampak dari ekspor kunyit yang mengalami peningkatan. Menurut Slamet, sebelum adanya ekspor, harga kunyit dikisaran harga hanya diangka seribu sampai Rp 1.200. Namun harga melejit hingga Rp 3.500 sampai Rp 5 ribu setelah adanya ekspor kunyit.

Pemkab Kediri Ajak Trenggalek dan Ponorogo Siapkan Atraksi Wisata di Bandara Dhoho

Program tentang ekspor kunyit turut mendorong masyarakat banyak yang menanam kunyit. Harapannya mereka bisa mendapatkan cuan dari kunyit. Program tersebut berdampak sangat besar kepada petani.

Di Ponorogo, pengiriman kunyit ke Pasar Lokal Surabaya dan Jakarta bisa mencapai 55 hingga 77 ton per hari. Banyaknya permintaan kunyit membuat petani memiliki banyak pilihan untuk menjualnya baik dalam bentuk masih basah atau kering dan rempelan. Slamet mengungkapkan saat ini kunyit rempelan harganya berkisar Rp 2 ribu yang dulunya hanya Rp 425.

Halaman Selanjutnya
img_title