Melihat Keragaman Burung Air di Pulau Rambut
- Istimewa
Jakarta, VIVA Jatim-Gugusan pulau di Teluk Jakarta menjadi tempat persinggahan penting bagi burung migran sekaligus surga bagi burung air di kawasan DKI Jakarta. Salah satunya adalah Pulau Rambut. Pulau ini telah ditetapkan sebagai kawasan perlindungan suaka margasatwa sejak 1999. Vegetasi utamanya terdiri atas hutan mangrove, hutan dataran rendah, dan hutan pantai yang menjadi habitat berbagai jenis burung air.
Pulau Rambut merupakan salah satu dari 228 Daerah Penting bagi Burung dan Keanekaragaman Hayati (Important Bird Areas/IBAs) di Indonesia sekaligus telah ditetapkan sebagai Situs Ramsar, kawasan lahan basah bernilai ekologis tinggi yang penting bagi habitat burung air dan burung migran.
Karena itu, Burung Indonesia kembali menggelar kegiatan tahunan Asian Waterbird Census (AWC) pada Sabtu, 7 Februari, di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. AWC merupakan bagian dari International Waterbird Census (IWC) yang bertujuan mendukung pembaruan data populasi burung air, sekaligus meningkatkan kapasitas dan penyadaran publik mengenai nilai penting burung air beserta habitatnya di Indonesia.
Sebanyak 20 peserta terlibat dalam kegiatan perhitungan burung air di Pulau Rambut. Mereka dibagi ke dalam tiga kelompok untuk melakukan pengamatan di sisi luar pulau dan bagian tengah pulau. Untuk lokasinya ada dermaga di selatan, bird hide di timur, dan menara di tengah pulau. Pengamatan dilakukan mulai pukul 10.00 WIB hingga 12.00 WIB.
Setelah pengamatan di tiga lokasi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi. Salah satu spesies burung yang menjadi sorotan adalah bangau bluwok (Mycteria cinerea) yang menjadi burung ikonik Pulau Rambut. Spesies ini bersarang dan berbiak di kawasan tersebut. Menurut IUCN, bangau bluwok termasuk spesies terancam punah secara global, statusnya Genting (Endangered). Populasinya juga menunjukkan tren penurunan berdasarkan data BirdLife International, dengan jumlah individu saat ini diperkirakan sekitar 1.800 ekor.
Penurunan populasi tersebut dirasakan langsung oleh salah satu peserta pengamatan, Merry Hemelda. Ia mengenang pengalamannya pada 2011–2012, saat bangau bluwok masih mudah ditemui di area menara. Tidak hanya bangau bluwok, populasi burung air secara keseluruhan yang ditemui di Pulau Rambut kala itu masih jauh lebih banyak dibandingkan tahun ini. Bahkan, ketika masuk pulau, pengunjung sampai disambut dengan kotoran burung yang jatuh.