Shifu dan Sahabat
- Nur Faishal/Viva Jatim
Di luar Kombas, ada komunitas lain yang kira-kira kegiatan dan tujuannya sama. Ada Pondok Budaya Ikon yang bermarkas di kampung belakang UINSA, numpang ke gudang buku sebuah penerbit. Anggotanya juga suka menulis dan mengirim tulisan ke koran-koran. Ada yang bergerak secara personal dan atas nama persahabatan tanpa nama komunitas. Mereka juga rajin membaca, diskusi, dan mengirim tulisan ke koran-koran. Kami bersaing satu sama lain dan antarkomunitas. Atmosfer literasinya begitu terasa.
Hingga akhirnya pada 2009 saya keluar dari kampus tanpa gelar. Tapi berkat berproses di Kombas dan pers kampus LPM Arrisalah, juga ‘berkompetisi’ dengan teman-teman yang memiliki kesukaan dan kebiasaan yang sama, saya tak kebingungan mendapatkan pekerjaan. Saya masuk ke dunia jurnalistik dan menjadi jurnalis hingga sekarang. Tanpa bekal ijazah, hanya bermodal pengalaman menulis dan menulis.
Semua yang berproses bareng-bareng saat itu juga menemukan hikmah dan berkahnya belakangan. Ada yang menekuni dunia perbukuan sampai sekarang dan sukses. Ada yang jadi politisi dan meraih posisi strategis. Ada yang jadi kiai seperti Khaerul Azmi. Kebanyakan jadi akademisi. Ada yang tetap jadi penulis tapi ada plusnya: plus diakui sebagai kiai dan akademisi sekaligus seperti Gus Rijal Mumazziq.
Di pengujung Juni beberapa hari lalu, saya berjumpa dengan Prof Nur Syam setelah hampir 20 tahun tak bersua. Ia diundang menyampaikan orasi kepesantrenan bersama alumni Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura (Kabanas), Kabupaten Sumenep, Madura, dalam rangka harlah pesantren itu. Sebagai alumni, saya juga hadir. Alangkah senangnya diri ini ketika saya salami dan Prof Nur Syam kaget campur senang begitu tahu yang mengulurkan tangan adalah saya. Sambil salaman dia bilang, “Ini murid saya dulu di IAIN.”
Pentas kolosal Harlah PP Nasy
- YouTube PP NASA Official
Saya senang karena, bukankah puncak kebahagiaan seorang murid adalah ketika selamanya diakui sebagai murid oleh sang guru? Seperti di film-film kungfu, betapa sedihnya seorang pendekar ketika dicabut statusnya sebagai murid oleh shifu-nya. Saking senangnya, saya pun kembali menemui Prof Nur Syam saat ‘diculik’ sahabat-sahabat IKA UINSA ngobrol santai tentang kepesantrenan di sebuah kafe di Kota Sumenep. Di sana kami lebih banyak waktu mengobrol.