Dari Mimpi Kampus ke Ruang Pamer
- Nurma Ayu Kusuma Putri/VIVA Jatim
Kediri, VIVA Jatim – Jari lentik perempuan itu menggores kanvas dengan kuas, menggambarkan pola-pola realis di halaman putih. Laili, perempuan asal Kandat, Kediri melukiskan kebebasannya. Pada saat ditemui VIVA Jatim, ia mengaku gemar menggambar sejak kecil. Lahir dari keluarga yang agamis, pada awalnya menjadi pelukis bukan mimpinya. Sebaliknya, ia berpikir untuk menikah muda dan mempertanyakan pentingnya kuliah, ditambah dengan lingkungannya yang banyak melakukan pernikahan dini.
Saat sekolah di bangku MA sekaligus mondok di Darul Ulil Albab, Kabupaten Nganjuk, ia sering mendapat pujian dari kawan-kawannya soal keterampilan menggambarnya. Bahkan, beberapa dari temannya membeli gambar darinya, seperti gambar tulisan nama dengan harga tiga ribu rupiah saja. Dari sana beberapa rekan juga meyakinkannya bahwa dengan kuliah, bisa belajar lebih soal karya seni.
Dari situlah Laili ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan mengurungkan niat menikah mudanya. Ada di keluarga dengan ekonomi terbatas, Laili bermodalkan kemahirannya saat itu mencoba mencari informasi terkait pendaftaran masuk ISI jurusan seni rupa. Namun, saat tes masuk dilaksanakan, belum sampai akhir dia sengaja kabur karena merasa sulit menggambar pada saat itu.
“Aku kabur, padahal tinggal tes menggambar aja. Tapi aku merasa sulit, lihat yang lainnya, kok, gambarnya bagus-bagus semua, aku sampai nangis di tempat, loh itu,” ceritanya sambil tertawa mengingat mengenang peristiwa lucu yang dialaminya.
Keinginan berkuliah masih melekat meski setelah adegan kabur itu terjadi. Namun, ayahnya yang merupakan tokoh agama di lingkungannya enggan melihat anak perempuan pertamanya melanjutkan jenjang pendidikan tinggi, karena takut tidak ada laki-laki yang mendekat untuk menyunting.
“Ayahku bilang, kalau kuliah nanti gak ada laki-laki yang mau sama aku, padahal aku juga pengen sekolah, disuruh mondok lagi, tapi aku gak mau,” pungkasnya sembari membuka botol minum.
Setelah lulus madrasah aliyah di usia 19 tahun, Laili nekat kabur ke rumah temannya selama tiga hari karena mengetahui kabar dirinya akan dijodohkan oleh kakeknya dengan laki-laki yang sekarang telah menikah dengan kerabatnya. Dia merasa pada saat itu tidak ada pilihan lain selain menerima perjodohan.
Memasuki hari-hari berikutnya, ketika ayahnya tahu bahwa hasrat menggambar terdorong kuat di putrinya, Laili lantas dikenalkan kepada seorang guru oleh ayahnya. Dari sana perempuan tiga bersaudara itu belajar menggambar lebih baik dan lebih mengenal dunia luar, karena sebelumnya dia adalah anak rumahan dan merupakan seorang santri.
“Aku dikenalkan sama ayahku orang yang sekarang jadi guruku, orangnya baik dan sering ngajak aku ke mana-mana. Aku yang sebelumnya nggak pernah ke mana-mana akhirnya keluar juga, beliau namanya Pak Ruslan,” jelasnya dengan wajah sumringah.
Pada tahun 2022, Laili mengaku sempat menjalani beberapa pekerjaan dalam satu hari. Pagi hingga siang mengajar TK dan MI, sore hingga malam menjaga toko baju, dan terkadang ia juga menjelma menjadi asisten make up artis jika ada panggilan. Itu dilakukannya karena dirinya juga membantu membiayai kuliah sang adik.
Dalam fase hidupnya, Laili juga sempat menjadi pasien psikolog karena merasa di rumah tidak ada solusi dan kurang nyaman. Sempat akan dikuliahkan oleh psikolognya karena tahu dia suka belajar banyak hal, perempuan kelahiran 2000 itu menolak. Bukan tanpa alasan, justru karena telah banyak menjalani pekerjaan dan ingin kebebasan.
“Aku pernah ditawari kuliah sama psikolog yang menangani aku di jurusan psikologi, nanti lulusnya aku ditarik jadi asistennya. Tapi aku gak mau, aku pengen bebas berkarya,” tuturnya.
Beberapa lukisan karya Laili asal Kandat, Kabupaten Kediri.
- Nurma Ayu Kusuma Putri/VIVA Jatim
Lambat laun Laili bertemu dengan banyak orang dan menjalin hubungan baik. Hal tersebut membawa banyak hal-hal positif di kehidupannya. Meski mimpi untuk masuk kampus masih tertunda, namun ia memiliki hal lain yang sama baiknya. Lukisan-lukisan yang dibuat telah laku terjual, bahkan salah satu pembelinya adalah Mas Dhito, bupati Kediri senilai Rp6 juta.
Dari melukis, ia mengaku belajar banyak hal, mulai dari public speaking sampai dengan menemukan kebebasannya tanpa terikat dengan orang lain. Perjalanannya memang tidak semulus beberapa insan, namun Laili berhasil menemukan jati diri dan arah hidupnya. Bahkan, pameran tunggal yang sejak lama berada di whistlisnya, akan ia laksanakan pada bulan September 2026 di Surabaya.
“Kayak keajaiban aku sampai ada di titik ini,” paparnya.
Laporan: Nurma Ayu Kusuma Putri/Kediri Raya