Universitas Ciputra Surabaya Kembangkan Kampus Inklusif Berbasis Sistem Data

Workshop Disability Awareness yang digelar di Integrity Hall UC.
Sumber :
  • Rachmad Fahrizal Tito

Surabaya, VIVA Jatim-Universitas Ciputra Surabaya mulai mendorong pengembangan kampus inklusif yang tidak hanya sekadar penyediaan layanan disabilitas, namun juga berbasis sistem dan data.

img_title Hari Buku Nasional 2026, Mahasiswa Ubaya Sulap Sampul Buku Jadi Karya Seni Tokoh Fiksi

Langkah ini ditandai dengan peluncuran buku saku panduan dosen hasil kolaborasi dengan Kementerian Sosial Republik Indonesia, serta penguatan platform digital internal CEDX (Ciputra Education Digital Experience).

Inisiatif tersebut diperkenalkan dalam Workshop Disability Awareness yang digelar di Integrity Hall UC, Senin, 4 Mei 2026. Penyuluh Sosial Ahli Muda Kemensos RI, Santi Utami Dewi, menilai langkah ini sebagai terobosan penting dalam membangun lingkungan pendidikan inklusif.

img_title Exzam.id Kenalkan AI Diagnostik Akademik untuk Dongkrak Hasil TKA

“Tantangan terbesar bukan pada sumber daya, tetapi keberanian untuk memulai. Universitas Ciputra sudah menunjukkan langkah nyata,” ujarnya.

Ketua Satgas Disabilitas UC, Yehuda Abiel, menjelaskan bahwa kampus kini mengintegrasikan data mahasiswa disabilitas ke dalam sistem pembelajaran melalui platform CEDX.

img_title Jawa Timur Juara Nasional dengan 45.839 Medali Puspresnas, Khofifah: Bukti Pendidikan Berkualitas

Melalui sistem ini, dosen dapat mengakses informasi mahasiswa disabilitas di kelasnya, lengkap dengan panduan pembelajaran yang relevan.

“Kami ingin inklusivitas tidak berhenti pada awareness, tetapi masuk ke sistem,” kata Yehuda.

Fitur yang diluncurkan memungkinkan dosen melihat kebutuhan khusus mahasiswa sekaligus panduan pendekatan yang tepat dalam proses belajar mengajar.

Ke depan pengembangan sistem akan diperluas melalui dashboard khusus bagi dosen Pembimbing Akademik (PA) yang ditargetkan aktif mulai September 2026.

Melalui fitur ini, dosen dapat mengidentifikasi mahasiswa sejak awal dan memberikan pendampingan yang lebih terarah, termasuk koordinasi dengan admin support.

UC menegaskan bahwa pengembangan sistem tetap mengedepankan perlindungan data mahasiswa. Untuk tahap awal, akses data masih terbatas dan memerlukan persetujuan tertulis dari mahasiswa.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem inklusif yang tidak hanya efektif, tetapi juga etis. Membangun pendekatan inklusif berbasis data yang dilakukan menunjukkan arah baru dalam pengembangan kampus inklusif, yakni mengintegrasikan edukasi, sistem, dan budaya dalam satu ekosistem.

“Kami ingin membangun kampus yang tidak hanya ramah, tetapi benar-benar siap secara sistem,” ujar Yehuda.